"Saya butuh uang, saya butuh makan. Maaf, rasa sabar saya tidak bisa selamanya mengasihani orang," kata seorang wanita pemilik rumah kontrakan.
Guratan raut wajah wanita setengah baya itu, sebenarnya tidak tega dan merasa kasihan dengan keadaan seorang lelaki buta dan mengalami dwon syndrome. Sedangkan istrinya masih mengemas pakaian yang masih bisa di bawanya, masih berada di dalam.
Ada rasa kasihan dan tidak tega hatinya wanita pemilik rumah kontrakan memberikan berapa lembar uang pecahan sepuluhan ribuan pada lelaki yang tidak lagi berdagang kerupuk.
"Ambil, ini buat bapak. Buat bekal di jalan," di paksanya lembaran uangan dan di pegang dalam genggam tangan dan hanya menatap kosong dalam kegelapan hanya merasa bentuk lipatan lembaran uang yang di lihatnya.
"Terima kasih. Saya masih ada sedikit untuk makan," menolaknya halus, di kembalikannya lipatan lembaran uang pada wanita pemilik rumah kontrakan.
Wanita pemilik rumah kontrakan semakin terenyuh sedih saat melihat seorang istri dari suami yang tidak bisa melihat sudah keluar membawa tas usang. Tidak lagi membawa pikulan dagangan kerupuk, semua kerupuk-kerupuk dagangannya sebagian hancur remuk dan terbawa genagan air rintik hujan.
"Bu Laya, maaf. Bukan bermaksud saya mengusir," lagi tidak enak hatinya wanita pemilik rumah kontarakan, sungguh memang maksudnya tidak ingin mengusir. Akan tetapi sudah terlalu lama di berikan kelonggaran dan sungguh sabar pemilik rumah kontarakan serta sejauh ini sudah begitu merasa mengasihani.
"Tidak mengapa bu. Saya yang justru minta maaf, sudah terlalu sering merepotkan ibu. Mungkin ini, jalan satu-satunya saya dan suami saya pindah dari sini. Ibu bisa mengontrakan rumah itu pada orang lain. Ayo pak," di jawabnya, sejenak dua pasang wanita saling menatap sendu.
Lalu tangan Laya menarik jemari kiri tangan suaminya dan di letakan pada pundak kanannya. Tongkat sudah di pegang jemari kanan suaminya seraya mengetuk bumi untuk menunjukan jalan, harus kemana langkah kakinya mencari tempat untuk berteduh. Sedangkan pemilik kontarakn hanya berdiri seraya mematung, menatap seorang istri yang begitu setia menuntun jalan suaminya yang buta dan mengidap dwon syndrome sejak sedari lahir.
Tidak tahu kemana dua pasang kaki melangkah jalan, tatapan kesedihan seraya tidak bisa di pugkiri bila keduanya sedang meratapi kerinduan di mana keberadaan anaknya saat ini. Namun lagi-lagi musibah datang sungguh tidak ada yang menduga, jika selama ini kesabaran pemilik rumah kontarakan pada akhirnya membuat keduanya harus segera mengosongkan rumah itu.
Rahasia besar itu perlahan mulai terungkap, mulai terjawab tentang kebenaran cowok berwajah tampan, anak siapa. Namun satu rahasia lagi belum terjawab, kenapa dua mata suaminya sampai tidak bisa melihat. Itulah yang membuat kenapa seoranng bapak yang kali ini tidak bisa melihat sangat merindukan keberadaannya di mana. Justru anak yang sedang di carinya saat ini, sesungguhnya anak itu juga tidak tahu, dan berusaha sedang mencari di mana ayah dan ibu kandungnya yang sebenarnya.
"Bu, bapak capek. Cari tempat istirahat," kata suaminya, tangan kirinya tidak lagi mendarat di pundak kanan istrinya.
Topi di lepaskan dari kepalanya yang sudah basah dengan keringat. Tatapan dua matanya hanya terasa kosong dan hanya kegelapan dilihatnya, walau langit siang itu sangat cerah dengan sinar terik mataharinya sangat menyengat. Sedangkan istrinya masih di gempur rasa kebingungan, sejak tadi dua kakinya mengajak berputar dengan pandangan dua matanya melihat sekitar.
Dua matanya Laya berusaha untuk tidak meneteskan air mata, hatinya semakin di derai kesedihan dan dua matanya hanya melihat hamparan bangunan gedung bertingkat tinggi sedang berlomba mencakar langit. Tidak tahu kemana harus mencari tempat berteduh, semakin bingung dan semakin buntu pikirannya.