Makin kentara, makin jelas dua matanya terlihat pada saat berdiri depan cermin, ketika istrinya sudah terlelap tidur. Dilihatnya jelas memang ada yang berbeda, bentuk kelopak mata yang miring keatas dengan lipatan kulit tambahan di sudut dalam dan adanya bintik putih kecil pada iris mata.
Bingung dan cemas, walau penglihatannya kali ini sangat jelas pada wajah teruatam pada dua bola matanya, jika ada yang berubah dengan kedua matanya. Yang tidak biasanya, dua matanya sering kabur penglihatannya juga sering buram. Seperti ada yang berbeda dengan keadaan dua matanya.
Tertegun sejenak, wajahnya yang tampan tidak berpaling dari cermin meja rias, yang sehari-hari di pakai istrinya untuk merias wajahnya. Sekali menoleh kesamping, istrinya masih terbaring tidur lelap tanpa tahu jika masih terjaga dari tidur sejak tadi. Agra berbalik membelakangi cermin meja rias, dua langkah berjalan berdiri depan ranjang.
"Apa ini dua mata bapak kandungku?" gumamnya dalam hati, suaranya takut terdengar istrinya. Hatinya masih bertanya-tanya dan ragu, jika dua mata yang berada dalam kelopak mata, dua mata itu adalah dua mata bapak.
Sedih, ingin menangis dan bercampur marah seraya akan percuma saja. Semua sudah terjadi, semua atas kebaikan dan pengorbanan bapaknya. Sungguh baik sekali jiwa bapaknya yang padahal mengalami down syndrome, tapi hatinya begitu sangat baik mau memberikan dua mata padanya.
Sungguh mulia pengorbanan bapaknya yang begitu tulusnya menjual terang matanya, dan sudab membeli kegelapan hanya demi agar dua anaknya bisa melihat. Namun Agra masih tidak habis pikir, apa yang terjadi selanjutnya setelah cerita ayah angkatnya setelah membantu bapak dan ibu kandungnya keluar dari kesulitan.
"Aku harus mencari bapak." gumamnya pelan, suaranya masih tidak terdengar istrinya masih terlelap tidur.
Agra sejenak duduk membelakangi istrinya, lalu terbaring tidur di samping istrinya. Menoleh kewajah istrinya, begitu cantik ayu paras wajahnya, dan begitu sabar sayang padanya serta dua anaknya.
Di luar sana malam semakin larut, sisa rintik hujan masih terdengar bebas jatuh membasahi pelataran halaman samping rumahnya. Kaca luar jendela masih terlihat bulir sisa-sisa rintik hujan seraya bergegas cepat meluncur jatuh untuk menyatu dengan genangan air.
Dua matanya mulai terpejam, namun terasa sulit untuk diajaknya terpejam. Menanar merah dua matanya, ingin rasanya menangis namun takut istrinya terjaga bangun. Menghela napas panjang seraya mengusir tangisan semakin mengusik dua matanya di paksa untuk terpejam.
***
"Yah, apa iya nantinya Agra tidak bakalan sayang sama kita berdua lagi?" tanya istrinya, sama kedua pasang mata itu masih terjaga dari tidur masih tergurat cemas dan gelisah.