MENJUAL TERANG, MEMBELI GELAP

Herman Siem
Chapter #10

YANG BERARTI

"Memang bagian kanan mata Pak Agra miring sedikit keatas dan ujung mata bagian luarnya terlihat agak miring keatas juga. Tapi wajar kok ini, mungkin Pak Agra terlalu lelah dan dua mata Pak Agra terlalu banyak aktivitas depan layar komputer," terang dokter mata, seorang lelaki muda.

Dokter mata sekali lagi perhatikan dua mata Agra dengan jari jempol dan telunjuknya menjepit bagian mata dan sedikit di angkatnya. Lalu telunjuknya turun sedikit mengusap bagian samping hidung memang rada sedikit membesar.

"Terdapat lipatan kulit tambahan di sudut dalam mata, dekat hidung. Yang membuat kedua mata Pak Agra tampak lebih kecil, ini di sebut epikantus," tertegun sejenak bingung, kali ini semakin jelas dokter mata perhatikan dua mata pasiennya. Pastinya hatinya bergumam tanya, bingung tidak biasanya dan umumnya terjadi pada mata orang normal.

"Dok, apa ini gejala katarak?" tanya Agra pikirannya mulai terusik cemas, setelah dokter mata selesai periksa dua matanya.

Dokter mata lalu terduduk setelah mencuci dua tangannya di bawah kucuran air wastafel, lalu menarik selembar tissue untuk mengusap mengeringkan dua tangannya. Dokter itu kemudian terduduk dan sekali lagi perhatikan dua mata pasiennya yang menunggu jawaban pertanyaannya.

"Untuk memastikan kondisi jelas dan menjaga kesehatan penglihatan dua mata Pak Agra, sangat saya sarankan untuk melakukan pemeriksaan medis profesional di rumah sakit besar. Ya, tentunya dengan peralatan yang modern. Maaf pak Agra, jika saya boleh bertanya. Apa Pak Agra memiliki orang tua yang terlahir dwon syndrome?" tutur dokter sembari bertanya berhati-hati pada pasiennya seketika terdiam, terasa berat untuk menjawab.

Agra hanya melamun, dua pandangan matanya hanya tertegun sama sekali tidak berkedip. Rasanya pertanyaan itu berat untuk di jawab, pikirannya mulai merangkai dengan cerita ayah dan ibu angkat, jika benar apa yang di tanyakan dokter. Bila memang benar, ia memiliki orang tua yang mengidap dwon syndrome sejak lahir.

"Pak Agra? Tidak mengapa, jika Pak Agra tidak menjawab pertanyaan saya. Saya kasih obat untuk merileksasikan dua mata Pak Arga. Dan dua mata Pak Agra jangan terlalu banyak beraktipitas depan layar komputer," tanya dokter, dan menjelaskan serta jemari kanannya menuliskan resep pada secarik kertas.

"Baik dokter, terima kasih." jawabnya sedikit tersenyum.

Dokter muda yang memang specialis mata kembali melihat lagi dua mata Agra, sembari tangan kanannya menguratkan ujung balpoin pada secarik kertas.

***

Hati dan pikirannya semakin berkelana mencari di mana pemilik dua mata itu berada. Dua tangannya masih mencengkeram kemudi setir mobil, pandangannya kadang menoleh kiri dan kanan. Dua matanya semakin terenyuh ketika hatinya mengajak berbisik sedih dan gelisah.

Apa yang terjadi dengan dua matanya, baginya tidak manjadi soal. Walau mengurangi ketampannya, karena semakin hari semakin kemari, wajah tampannya semakin terlihat ada yang berbeda dengan muncul keanehan pada dua matanya. Yang penting baginya saat ini mencari di mana mereka, mereka adalah yang sangat berarti.

Hanya sepi tidak lagi terlihat pasangan suami-istri biasanya menjajakan dagangan kerupuk di tempat biasa, dekat lampu merah. Hatinya semakin mengetuk bertanya penasaran dan tidak ingin pandangan sisi kirinya terhalang kaca pintu samping kiri. Terbuka turun otomatis kaca mobil, lampu masih merah dan dua matanya jelas memang tidak ada dua orang yang sedang di carinya.

Lihat selengkapnya