MENJUAL TERANG, MEMBELI GELAP

Herman Siem
Chapter #11

PUNDI RUPIAH MENANGIS

Masih terlilit potongan kain selimut telapak kaki kanannya, walau terasa sakit namun tidak di indahkannya. Sinar terik matahari sungguh sangat menyengat tak mau beranjak pergi terus membayangi wajah dan sekujur tubuhnya. Sedangkan peluh semakin terkuras menyerap bajunya dan topi yang di pakainya.

Untung saja topi yang kusam itu masih setia menutupi kepalanya untuk mengusir panas. Lelaki yang sejak lahir sudah dwon syndrome, tidak ingin di kasihani dan begitu saja berpasrah berharap rezeki datang begitu saja. Baginya rezeki tidak begitu saja datang, tanpa di carinya dengan segenap tenaganya.

Walau bagian hidupnya kekurangan, tidak lantas putus asa hanya berpangku tangan berharap belas kasihan dari orang. Jauh di buang rasa keputusasaan dari pikirannya, jika kekurangan yang di miliki saat ini bukan jadi penghalang segalanya. Selagi dua kakinya masih bisa berjalan, walau dua matanya tidak bisa melihat, tekadnya masih kuat untuk tetap mengais rupiah demi agar perutnya tidak berteriak kelaparan.

Sedangkan istrinya yang begitu setia masih selalu bersamanya, istrinya juga tidak pernah mengeluh atau malu memiliki suami terlahir dwon syndrome. Karena baginya, suaminya adalah segalanya baginya. Hatinya semakin kekeh, semakin yakin bila suatu hari nanti jika anugerah kehidupan terindah akan kembali datang menghampirinya lagi.

Istrinya memanggul karung berisi pasir di atas kepalanya, tidak ingin jauh tangan kiri suaminya masih mendarat di bahu istrinya dengan tangan kanannya menarik karung berisi pasir yang terikat dengan tali tambang. Tidak di rasakan sakit pada telapak kaki kanannya walau masih tersimpan luka mengangah terlilit sisa potongan kain selimut.

"Pak, bapak capek? Kalau capek istirahat saja," dua kaki istrinya berhenti berjalan, dua tangannya masih menahan karung berisi pasir di kepalanya dan menoleh kebelakang.

"Bapak belum capek," jawab suaminya yakin, padahal wajahnya sudah di permainkan peluh dan tangan kanannya masih mengenggam tali tambang terikat karung berisi pasir.

Sementera pekerja yang lainnya masih sibuk dengan perkerjaannya masing-masing sedang membangun kontruksi gendung tinggi. Nasib baik masih berpihak pada sepasang suami-istri, mereka berdua masih di terima bekerja walau hanya mengangkut pasir, semua itu atas kebaikan Memet, mandor kontruksi bangunan gedung bertingkat.

Walau pendapatannya tidak seberapa, namun bagi keduanya sungguh sangat berarti. Bila pundi rupiah yang di dapati hanya untuk mengisi kekosongan perut yang selalu menabuh genderang rasa lapar dan sisanya untuk mencari sesuatu yang sangat berati bagi keduanya.

Dan kali ini tempat tinggal untuk keduanya memang tidak berbayar, mereka berdua masih tinggal di rumah yang terbengkalai. Rumah yang hanya setengahnya beratap, namun setengahnya lagi hanya beratap langit yang kadang tidak menentu. Tidak tahu kapan rumah itu masih berdiri, walau sudah tidak utuh.

Pasti suatu hari rumah itu akan di gusur rata dengan garukan sekop excavator untuk melebarkan bangunan gedung tinggi yang sedang di bangun oleh satu pemilik pundi rupiah yang sehari-harinya bermandikan dengan banyak pundi rupiah. Tidak tahu sampai kapan keduanya bekerja, bekerja hanya untuk memberikan jawaban agar perutnya tidak berteriak kelaparan.

"Pak, bu sudah. Sudah sore, sudah waktunya istirahat," kata Memet, mandor proyek sejenak menatap kasihan pada dua orang tua itu.

Tidak menjawab hanya menoleh dan ingin melihat wajah mandor yang begitu baik padanya, tetap saja dua matanya tidak bisa melihat. Tidak lagi tali tambang dalam genggaman tangan kanannya.

Lihat selengkapnya