Hari sabtu sekolah libur, dan pastinya juga ayahnya tidak bekerja. Jika libur, seperti biasa ayahnya pasti akan mengajak liburan atau sekedar jalan mencari kuliner. Pasti dua anaknya sudah ingin melepas lelah dari penatnya selama 5 hari berangkat pulang sekolah, setelah itu kembali buka baca buku dan mengerjakan tugas rumah.
Bundanya juga yang selalu extras sungguh perhatian untuk masa depan dua anaknya, tidak hanya sekolah saja . Bundanya kembali memberikan pelajaran tambahan dengan mendatangkan guru privat datang kerumah. Pastinya otak dua anaknya sudah mumet di jubelin dengan segitu banyak pelajaran. Hanya hari Sabtu dan minggu kedua anak itu biasanya mengajak otaknya yang sudah tegang berkerut untuk diajaknya refresing agar tidak tegang otaknya untuk sedikit tertawa senyum.
"Bun, kok ayah masih belum keluar dari kamar?" tanya anak sulungnya, padahal sejak tadi menahan gusar karena ayahnya belum keluar-keluar juga dari kamar.
Di lempar begitu saja sapu dan pel, gagangnya sampai beradu mendarat kelantai. "Brugg!"
Yoga beranikan diri berjalan kearah pintu kamar sejak tadi tertutup. Padahal tangan kanannya sudah mengepal ingin mengetuk pintu tapi tidak jadi saat menoleh dan melirik adik bungsunya menggelengkan kepala seperti ketakutan.
"Bunda saja yang ketuk pintu," kata anak bungsunya meletakan kain lap di meja tidak lagi melanjutkan mengelap meja.
Bundanya tersenyum sedikit menghela napas, keningnya sedikit berpeluh dan meletakan komeceng di meja. Padahal ketiganya memang seperti biasanya jika hari libur selalu membersihkan rumah sembari menunggu ajakan ayahnya, tapi sejak sedari tadi di rasa sudah menunggu terlalu lama membuat dua anak itu tidak sabaran.
Bundanya sudah selesai membersihkan pajangan dan alat elektronik dengan kemoceng, anak bungsunya sudah selesai mengelap meja dan kursi, dan serta sopa. Apalagi semua lantai dari lantai kamar, lantai ruangan makan dan ruangan tamu sudah kinclong di sapu serta di pelnya.
"Kalian mandi saja, biar bunda yang mengetuk pintu," __ "Baik bunda," tersenyum ujarnya seraya membesarkan dua hati anaknya bergegas beranjak masuk kedalam kamar, segera mandi.
Istrinya tidak punya pikiran apa-apa, kenapa sampai sesiang ini suaminya belum juga bangun. Padahal ia dan dua anaknya sudah selesai dengan pekerjaan di hari sabtu, pekerjaan rumah yang sudah di rutin di lakukannya. Dan tugas suaminya setelah semua beres, suaminya mengajak istri dan dua anaknya jalan-jalan.
"Tok." sekali mengetuk pintu ragu untuk di lanjutkan lagi.
"Tok. Tok." __ "Yah. Ayah sudah bangun? Danu sama Yoga nungguin ayah," dua kali di ketuknya dengan ujung telunjuk di tekuknya sembari pelan memanggil.
Pintu terbuka sedikit, sejak tadi ternyata pintu itu tidak di kunci dari dalam. Padahal setelah istrinya bangun pagi, biasanya setelah istrinya keluar dari kamar untuk beres-beres rumah. Memang kebiasaan suaminya kembali menutup pintu, kembali tidur lagi setelah sholat subuh.
Dua kakinya mengajak melangkah jalan, pandangan dua matanya ada yang aneh dengan suaminya masih saja tertidur. Sinar matahari sudah tinggi dan begitu beraninya menyelinap masuk dari celah-celah jendela yang tidak tertutup tirai.