MENJUAL TERANG, MEMBELI GELAP

Herman Siem
Chapter #13

BELUM KERING AIR MATA

Tak pelak dan tak punya kuasa sungguh membuatnya tak berdaya, pasangan suami-istrinya yang di perbolehkan tinggal sementara waktu, kali ini terusir dari rumah terbengkalai. Sekop excavator sudah menungging terlihat di atas rumah, sekopnya siap menggaruk rumah menghancurkan seluruh bangunan terbengkalai.

Kekuasaan pemilik segalanya yang sehari-hari bermandikan uang seraya bebas untuk berbuat segalanya, tanpa peduli ada rasa empati. Atau pemilik segalanya yang memiliki banyak uang itu tidak tahu, jika dalam rumah ada sepasang suami-istri yang perlu di tolongnya. Atau karena arogansi bawahannya yang ingin segala pekerjaannya selalu di lihat benar.

Mungkin saja bila pemilik segalanya yang bermandikan dan tidur dengan uangnya tahu, tentunya sepasang suami-istri itu akan di tolong dan tentu akan di berikan tempat tinggal yang layak. Kepala naga tak'kan pernah tahu, bila buntutnya selalu di manfaatkan untuk di ambil sisik emasnya oleh bawahannya.

Justru bawahannya itu seraya, ialah yang paling berkuasa dan ialah yang lebih tahu tanpa membisiki dua telinga kuping naga yang hanya menganggut tanpa berkata ia atau tidak. Bawahannya selalu berkuasa dan menikmati segalanya dari kepala naga dan mengambil keuntungan dari jeritan tangisan yang seharusnya di ketahui oleh kepala naga.

Di mana mandor Memet, siang itu batang hidung tak tampak jelas terlihat. Andai saja ada mandor itu ada, mungkin sepasang suami-istri yang butuh tempat tumpangan tempat tinggal masih bisa di tolongnya. Mandor itu di mana, sedangkan para pekerja sudah siap dengan palu godamnya untuk merubuhkan sisa bangunan rumah.

"Tunggu!!!" teriak satu pekerja sontak terkejut saat sekop excavotor akan menggaruk atap rumah nyaris rubuh menimpa sepasang suami-istri, keduanya sungguh tidak tahu karena tidak ada yang memberitahu.

"Bu!" terjaga bangun dan panik, dua tangannya meraba-raba mengusik angin mulai terasa kering menyengat.

"Masih ada orang di sini!" teriak lagi satu pekerja itu semakin panik seraya memberitahukan pada operator excavator untuk berhenti memenggaruk sekop besar itu.

"Pak?" Laya terkejut saat dua matanya terjaga melihat tajamnya ujung sekop excavator nyaris menggaruk rangka atap dan pasti akan terjatuh menimpa mengenai tubuhnya dan suaminya.

Laya beranjak bangun memapah dua tangannya suaminya berusaha untuk melihat mendongak hanya kegelapan aja yang di lihatnya.

"Bantu, ayo bantuin!" kata satu lelaki dan di bantu dua pekerja lainnya bergegas mengajak keluar sepasang suami-istri yang panik dan bingung, wajahnya tidak lagi tersenyum dan berseri-seri.

"Bu, kita mau kemana?" tanya suaminya, kaki kanannya masih sakit menginjak ujung puing tajam dan dua tangannya di papah oleh dua pekerja. Sampai lupa tidak mengenakan alas sandal jepit, saking panik dan buru-buru meninggalkan sepasang sandal jepit.

Sedangkan istrinya di papah jalan oleh satu pekerja, sempat dua matanya melihat kelangit rumah. Langit cerah siang itu beratap sekop besar excavator siap menggaruk dan merubuhkan rumah.

"Pak, rumah itu?" tanya Laya, hatinya semakin bingung dan raut wajahnya semakin berselimut gelisah.

Lihat selengkapnya