Sungguh dingin, sungguh terasa dingin sekujur tubuhnya sampai menggigil oleh gerusan rintik hujan sejak tadi mengiringi sepasang dua kaki berjalan tanpa arah dan tujuan. Dua wajah yang semakin menua terlalu cepat karena pikiran yang selalu membuatnya ingin berteriak dengan perjalan nasib yang seraya keduanya tidak menerima.
Namun mau berkata apa, sungguh perjalanan nasib adalah bagian berjalannya keduanya yang semua atas perintah pemilik semesta ini. Bila keduanya harus menjalani, harus mengikuti perjalanan nasib yang sudah di gariskan oleh-Nya. Tak satupun siapapun menolak dan mengelak dengan nasib perjalanan yang telah di gariskan oleh-Nya.
Namun tak selamanya harus menerima perjalanan nasib yang di gariskan oleh-Nya, dengan langkah kuat, dengan hati penuh keyakinan dan ketulusan hati selalu bermohon pada-Nya. Yakin, bila perjalanan nasib yang di berikan oleh-Nya pasti berbelok dengan sesuai asa kita.
Benar bila manusia berharap, namun Dia lebih dominan menentukan perjalanan nasib. Akan tetapi jangan selalu berpasrah dan berpangku tangan pada-Nya. Jika semua akan tak selamanya selalu ada perjalanan nasib sudah garisi oleh oleh-Nya. Semua bisa berbalik manis, andai kita selalu berusaha dan tidak serta merta berpangku tangan pada-Nya selalu.
Hanya terasa dingin dan dua matanya hanya melihat kegelapan. Hanya dua mata istrinya yang mampu menuntun dan memapahnya untuk berjalan. Namun malam itu dua mata istrinya seraya tidak tahu kemana lagi mengajak dua kakinya dan dua kaki suaminya melangkah berjalan.
Seraya semua pintu rumah tertutup untuknya, ingin mengetuk saja terasa tidak kuasa, takut satupun pintu tidak terbuka dan peduli untuknya. Jalan terasa sepi sunyi, terasa gelap temaram walau sepanjang jalan lampu perangan tergantung memberikan sedikit terang di setiap langkah jalannya.
"Bu, bapak ingin berteduh. Bapak kedinginan," ujar suaminya, istrinya tidak menjawab.
Pandangan istrinya hanya menoleh kiri-kanan jalan, hanya tertutup rumah bertapa langit gelap dan pemilik semesta ini masih belum puas dengan rasa empati dan kesedihannya, masih menurunkan rintik hujannya.
Tidak menjawab, walau wajahnya sudah basah dan sejujurnya tubuhnya semakin lepek oleh gerusan rintik hujan. Tangan kanannya mengetuk ujung tongkat terasa basah menyentuh genangan air bermain dengan rintik hujan, tangan kirinya masih mendarat di pundak kanan istrinya.
Kembali berjalan, kembali mengajak dua kakinya tidak tahu kemana. Malam semakin membuat keduanya semakin terasa dingin, hatinya sudah terasa lelah.
"Bu, bapak kedinginan," lagi kata suaminya, dua kakinya semakin gemetar seraya sungguh sulit mengusir rasa dingin dan belum lagi baju yang di pakainya semakin tidak lagi bisa mengusir rasa dingin, bahkan gerusan hujan semakin menusuk setiap ari kulitnya. Bahkan topinya semakin lepek dan dinginnya semakin bebas menembus masuk kedalam celah rambutnya.