Helm warna kuning yang menutupi kepalanya sudah di lepaskan tidak lagi menutupi kepalanya walau sedikit tersisa basah karena lepek peluh. Pandangan dua matanya sedikit kabur perhatikan bangunan tinggi hampir selesai. Tersenyum bila sebenetar lagi pekerjaan selesai, pastinya pundi rupiah akan segera masuk kedalam sakunya.
"Jadi bangunan itu sudah kamu ratakan?" tanya Agra pada Memet, mandor yang selama ini di percayanya.
"Sudah pak," jawab mandor yakin, tapi hatinya mengulik kepiluan menatap reruntuhan puing.
Dua kaki Agra mengajak berjalan, hatinya di buat penasaran saat melihat sepasang sandal jepit di balik puing reruntuhan. Setengah membungkuk, tangannya mengambil sepasang sandal jepit diam membisu.
Hati seorang mandor marah dan semakin terusik, pandangannya seraya menahan gusar pada pekerjanya kenapa bangunan itu begitu saja di hancurkan oleh sekop excavator tanpa memberitahukan padanya.
"Maaf bang, waktu itu kami memang tidak memberitahukan sebelum pada dua orang itu," ujar satu pekerja beritahukan pada mandor menoleh dua pekerja lainnya hanya menunduk kepala, hatinya ketakutan akan di marahi oleh boss besar yang sudah datang siang itu.
"Dua orang?" semakin tambah bingung, saat tangan kanan Agra sudah mengambil sepasang sandal jepit dan di tunjukan pada mandor.
"Maaf Pak Agra. Memang benar, saya perbolehkan sepasang suami-istri tinggal sementara di bangunan itu yang kini sudah rata dengan tanah. Seharusnya mereka-mereka ini harus lapor pada saya, sebelum meratakan bangunan itu. Saya kasihan dengan pasangan suami-istri, yang pasti mereka saat ini pasti tidak tahu kemana," jawabnya panjang, wajahnya menunduk kebawah takut di marahin cowok berwajah tampan, mulai terlihat perubahan di wajahnya.
"Sudah, kalian kembali bekerja!" bentak mandor pada ketiga pekerja bergegas berjalan pergi.
"Dua orang itu, kamu perbolehkan tinggal di sini?" tanya lagi Agra raut wajahnya, yang selama ini di percayakan oleh pemilik segalanya, pemilik uang banyak yang membangun bangunan bertingkat sedang dalam proses pembangunan.
"Benar Pak Agra. Saya kasihan dengan dua orang itu, pak. Saya perbolehkan mereka berdua tinggal di bangunan yang sekarang sudah rata dengan tanah. Dan saya pekerjakan mereka mengangkut pasir. Justru saya sekarang, saya tidak tahu kemana mereka berdua," tutur lagi mandor, hatinya semakin ketar-ketir ketakutan kalau-kalau orang kepercayaan pemilik uang itu akan marah padanya.
"Ya sudah kamu kembali bekerja!" sedikit gusar Agar mengusir pergi mandor. Tangan kanannya mengangkat sepasang sandal jepit dan dua matanya jelas di perlihatkan sepasang sandal jepit yang usang.
"Pak Mandor!" belum jauh mandor beranjak jalan dan berbalik bergegas menghampirinya.
"Kamu tahu ciri-ciri sepasang suami-istri, yang tinggal di bangunan itu sebelum di ratakan?" tanya Agra sedikit maju mendekati mandor kembali ketakutan.