MENJUAL TERANG, MEMBELI GELAP

Herman Siem
Chapter #16

DEPAN MATA JAUH DI HATI

Hanya ada jalan buntu untuk satu pencarian, pencarian seseorang yang sungguh sangat berarti, sungguh sangat di nanti sekian lama. Namun hatinya tak begitu saja gentar menghadapi setiap aral rintangan, dua kakinya seraya tengah lelah berteriak capek tidak ingin lagi mencari sesuatu yang berarti.

Asanya seraya kian pupus terbawa angin tak berbentuk tidak lagi menunjukan di mana keberadaan sesuatu yang berarti akan kembali memeluknya, mengakuinya tidak lagi membuangnya. Padahal yang di carinya ada depan matanya, walau jauh di hatinya, di sana tidak tahu berada di mana.

"Anggaplah kami berdua orang yang berarti selama ini kamu cari," ujar Laya penuh keyakinan, tatapannya dalam dan yakin pada anak gadis dua mata terenyuh sedih.

Laya sejenak menoleh suaminya hanya terduduk, ingin menatap wajah anak gadis itu yang wajahnya mirip dengannya. Laya lalu memeluk Siva, dua matanya berkaca-kaca dan dua tangannya membalas pelukan erat, wanita tua yang mengakui sebagai orang yang selama ini berarti, anggapnya sebagai ibunya.

"Iya Siva. Masih ada kami berdua. Kamu tidak akan lagi pernah kesepian," di timpali, wajahnya menoleh seraya ingin melihat wajah anak gadis itu. Hanya kegelapan saja yang di lihatnya, walau tangan kanannya meraba angin ingin mengusap wajah anak gadis yang sama persis dengan wajahnya.

"Terima kasih atas kebaikanmu, Siva. Kami masih bisa di berikan kesempatan dengan keadaan kami berdua seperti ini untuk tidak mengais berharap belas kasihan dari orang lain," lagi kata Laya, dua matanya terenyuh sedih menoleh seikat bungkusan kerupuk yang telah di berikan modal dari gadis berparas cantik, dua matanya seperti almond sudah terenyuh sedih.

Istrinya masih tidak ingin memberitahukan siapa gadis yang sudah menolongnya dari rasa mengusir menggigil dingin dan kini kedua tubuh itu telah hangat. Andai saja istrinya memberitahu kebenaran siapa gadis penolong itu, tentu suaminya akan sangat sedih sekali.

Atas kebaikan Siva, walau pernah bercerita jika ia sering di cemooh dan di sindir dengan wajahnya yang aneh, tapi hatinya sungguh sangat baik dan mulia. Gadis itu memberikan modal lagi untuk sepasang suami-istri yang walau ada kekurangan, namun tangannya tidak ingin meminta berharap belas kasihan pada orang lain.

"Kami berangkat berdagang ya, Siva. Semoga dagangan kerupuk ini laris laku terjual," ujar Laya sembari mengambil ikatan penuh bungkusan kerupuk, suaminya sudah siap dengan tangannya kanannya mengepal kepala tongkat dan jemari kirinya sudah mendarat di bahu kanannya istrinya.

"Bu?" tak kuasa tangis, bibirnya baru kali ini kembali bisa memanggil seorang yang sangat berarti, walau bukan wanita itu yang melahirkannya kedunia ini.

"Terima kasih, kalian berdua sudah mau mengisi kekosonganku selama ini. Baru kali ini aku rasakan pelukan hangat seorang ibu dan ucapan seorang bapak yang menguatkanku untukku, agar tetap semangat hidup. Hati-hati ibu dan bapak di jalan. Aku tunggu di sini," pelukannya sangat erat, tangisannya sungguh menyayat emosinya.

Wajahnya sudah basah dengan derai air mata di seka dengan telapak tangan kiri hangat seorang bapak mengangguk dan mengajak istrinya agar segera berjalan.

Siva tersenyum sedih, hatinya seraya menari berseri-seri bila masih ada orang yang bukan melahirkannya, namun orang itu masih sangat begitu sayang dan menganggapnya sebagai anaknya yang sangat berarti. Tidak lagi terlihat sepasang suami-istri, keduanya tidak lagi terlihat hanya semak belukar masih menyisakan basah sisa rintik hujan semalam.

***

"Kerupuk. Kerupuk asli ikan tenggiri ..."

"Kerupuk ... Kerupuk ..."

Suaranya terdengar pasti walau samar terdengar memecah suara anak-anak keluar sekolah, waktu jam pulang.

Langkah jalan Laya terhenti saat melihat anak-anak sekolah dasar berhamburan pulang di jemput ayah dan ibunya sejak tadi menunggu depan sekolah.

Lihat selengkapnya