Hatinya selalu bertanya sepanjang jalan dalam mobil, pandangannya selalu melihat sisi kiri, kedepan walau terhalang kaca mobil dan kadang menoleh kekanan sedikit terhalang oleh mandor yang siang itu menemainya dan sedang kemudikan setir mobil.
"Jadi?" __ "Iya benar Bang Memet, saya yakin dengan ciri-ciri yang sudah Bang Memet ceritain, mereka berdua bapak sam ibu saya," baru saja mandornya akan bertanya lagi mastikan, sudah di potong oleh cowok tampan, yang selama ini menjadi atasannya.
"Maafin saya pak. Kalau saya tahu mereka, orang tua Pak Agra, yang lagi di cari. Pasti saya tempatin di bedeng," kata mandor yang kali ini jadi sopir.
Barisan mobil dan motor berhenti di belakang mistar garis putih marka jalan. Lampu merah sudah terlihat berdiri di tiang kiri trotoar jalan, dan di lihat dua lelaki dalam mobil.
"Koran! Koran ..." suaranya terdengar dari samping mobil, saat pandangan mata Agra melihatnya dari kaca spion samping kanan dan menekan tombol, kaca otomatis turun.
Kepalanya setengah melongok keluar di hampiri tukang koran. "Bapak lagi. Bapak nyari Bu Tiar sama Pak Rendra?" kata tukang koran sudah tahu berdiri di samping mobil.
Lampu masih merah belum berganti hijau. "Kamu naik, ikut saya." kata Agra menoleh belakang.
Lantas tukang koran cepat menarik handle pintu mobil, dan naik duduk di barisan kedua jok belakang. Lampu merah sudah berganti dengan lampu hijau. Mandor Memet perhatikan kaca spion tengah, mungkin saja tukang koran itu baru kali ini naik mobil, tingkah norak.
"Pak, kok dingin ya?" tanya tukang koran, wajahnya melongok setengah antara dua jok.
"Ya dingin, kan' ada ac mobilnya," di jawab mandor Memet menahan geli tawa sembari kemudikan mobil.
"Nama kamu siapa?" __ "Nama saya, pak?" tanya Agra malahan balik di tanya tukang koran.
"Ya nama kamu, masa nama-nama koran yang lagi kamu jualin!" makin menahan tawa gelinya Mandor.Memet balik bertanya pada tukang koran.
"Nama saya Ragil, pak. Nama bapak dan ibu saya perlu, nggak pak? Lagian bapak nanya nama, kayak lagi saya sedang di tangkap sama Satpol PP, lagi di data," jawab tukang koran tersenyum sembari dua tangannya mengibas-ngibaskan seraya mengumpulkan angin dingin agar mendekati wajahnya.
"Pak, saya mau di bawa kemana? Saya nggak di bawa kekantor Satpol PP'kan?" kali ini tukang koran itu ketakutan dan majukan wajahnya di antara dua jok mobil lagi.
"Siapa yang mau bawa kamu kekantor Satpol PP. Pak Agra minta kamu anterin di mana tempat tinggal Bu Tidar dan Pak Rendra. Kamu tahu'kan Gil, di mana mereka tinggal?" kata dan tanya Mandor Memet sembari menoleh kesamping kiri.