Pikirannya masih mengawang keangkasa langit luas seraya berusaha untuk mencari, mencari sesuatu yang sungguh sangat berarti baginya. Semua daya upaya telah di lakukannya, segalanya sudah di perbuat hanya demi mencari anak kandungnya yang sebenarnya.
Hanya dua matanya saat ini sebagai kenangan yang sungguh sangat menyita dan menyayat hatinya ketika terkadang termenung dalam kesendirian. Kesedihannya semakin memuncak mengular dari relung kecil hatinya sampai mengular mengajak dua mata untuk segera menintikan air mata.
Ingin rasanya menyudahi pencarian itu, akan tetapi sungguh tidak bisa. Tetap saja hatinya mengajak untuk bersikeras melawan semua rasa kerinduan yang semakin membuat hatinya resah dan gunda gulana. Semakin ingin mencari, semakin kuat untuk ingin bertemu belahan hati sesungguhnya, yaitu anaknya.
Dua matanya termenung, seraya sedang menguntai masa silamnya bersama anak tercintanya. Walau terasa dua kakinya sungguh sudah terasa lelah untuk kembali mencari. Sejak tadi hanya duduk termenung menatap semak belukar hijau sedang menanti kebaikan pemilik semesta kapan menurunkan rintik hujan untuk menyambung hidupnya.
Percuma saja walau dua matanya di paksa melihat, hanya kegelapan saja yang di lihat bukan hamparan semak belukar yang mengelilingi bangunan kecil. Hanya merasa semilir angin terasa sedikit kering mengusap mengajak wajahnya untuk sedikit tersenyum. Lalu mendongak kelangit terlihat cerah dengan sentuhan gumpalan awan hitam kelabu.
Lagi-lagi dua matana sungguh ingin sekali bisa melihat seperti waktu lalu, saat dua matanya belum menjual terang bisa melihat. Kini hanya ratapan kegelapan yang di rasakan, hanya bisa membeli kegelapan pada dua matanya sepanjang jalan menyusuri jalan tanpa cahaya terang. Penciuman hidungnya yang pesek mengendus yakin, wangi khas istrinya sudah duduk di sampingnya.
"Bu, apa iya anak kita sekarang sudah besar dan sudah punya keluarga? Andai anak kita sudah bekeluarga, kita sudah punya cucu?" Rendra tersenyum menoleh pada istrinya tersenyum berseri-seri, namun hatinya terkulik kesedihan.
Padahal sering suaminya yang selalu melarang istrinya agar tidak lagi mendulang menguntai masa lalunya. Namun pikirannya semakin sulit untuk tidak kembali mengingat masa-masa silam yang sungguh sangat menyayat hati.
"Pasti, nanti kita berdua di panggil nenek dan kakek," jawabnya, hati Laya semakin terenyuh sedih mengular kedua matanya berkaca-kaca merona merah.
"Ibu jadi keingatan, dengan dua anak-anak yang tadi siang beli kerupuk sama kita. Bapak masih ingat'kan? Anak-anak itu, manggil kita dengan sebutan nenek dan kakek," lagi jawab Laya tersenyum sendu menoleh wajah suaminya tersenyum sendu.
"Hemm. Andai saja dua mata bapak ini tidak menjual terang demi anak kita. Mungkin bapak bisa melihat indahnya dunia ini. Cantiknya wajah ibu. Bapak lebih baik menjual terangnya dua mata bapak. Bapak tidak mengapa saat ini dan selamanya hanya mampu membeli kegelapan, hanya demi anak kita," tutur suaminya seraya mengakhiri pembicaraan siang itu depan bangunan kecil tempatnya tinggal.