"Pak Rendra terpaksa menjual terang dua matanya, hanya ingin Mas Agra bisa melihat dunia ini, Setelah menjual terang dua matanya, betapa sulit hidupnya, sungguh prihatin kehidupan Pak Rendra dan istrinya. Benar Mas Agra, dua mata itu milik bapakmu," tutur sedih Tri, sopir pribadinya rambutnya sudah memutih, sempat dua matanya menintikan tetesan air mata.
Sedangkan Kejora sedari tadi sudah ikut larut dalam kesedihan mendengar cerita sopir pribadi yang sudah lama bekerja pada keluarganya. Seraya sopir itu sudah menguntai masa lalu kembali dengan ia bercerita sebenarnya. Sedangkan Agra sejak tadi terduduk, dua matanya sudah sekian banyak derasnya meneteskan air mata.
Sungguh besar pengorbanan bapaknya, semua di lakukannya sampai menjual terang dua matanya dan saat ini bapaknya hanya berusaha membeli kegelapan dengan kesetiaan dua cahaya terang mata istrinya sebagai penuntun jalan kehidupannya.
"Sebenarnya waktu berada di lampu merah. Saya ingin sekali menangis dan mengatakan yang sebenarnya. Bila pedagang kerupuk itu adalah bapak dan ibu Mas Agra. Tapi saya tidak mau merusak kebahagian Mas Agra dan pesan ibu dan ayah Mas Agra agar saya menutup semua rahasia ini. Dengan menutupi rasa kesedihan saya, saya memanggil tukang kerupuk itu dan membelinya," semakin bersalah, semakin pecah tangis sopir yang ternyata dalam tekanan majikannya agar tidak boleh memberitahukan siapa kedua orang tua Agra sebenarnya.
"Sebab kenapa ayah dan ibu Mas Agra sudah memberitahukan siapa Mas Agra sebenarnya. Semua itu atas permohonan saya. Saya tidak tega dan selalu teringat saat melihat dua mata Mas Agra, bila dua mata itu pemilik seorang bapak yang sungguh sudah berkorban untuk anaknya. Dan yang paling menyedihkan dan membuat hati saya sangat bersedih. Bapakmu mengatakan, jika ia ingin sekali ketika nanti dua matanya anaknya bisa melihat. Hanya melihat dunia ini dan tidak melihat wajahnya bapaknya yang terlahir dwon syndrome," semakin sedih, semakin basah wajah sopir itu sungguh ikut andil dengan masalah yang selama ini di tutupinya.
"Maafin saya," lagi ujarnya singkat sopir yang wajahnya mulai menua beranjak bangun pergi.
Pandangan dua mata Agra dan Kejora masih menatap langkah jalan sopir bertubuh kerus semakin tidak terlihat lagi. Hatinya semakin berbisik kesedihan, sungguh besar pengorbanan bapaknya yang telah menjual terang dua matanya hanya demi untuknya yang terlahir buta.
Waktu sungguh sulit untuk kembali di putar, andai saja bisa di putar tentu saja Agra menolak tidak mau sampai bapaknya mengorbankan dua matanya hanya deminya agar dua matanya bisa kembali melihat. Hanya bisa menguntai pilu kesedihan, tak mungkin semua itu bisa terbayar dengan senyuman.
Istrinya beranjak bangun, berdiri di hadapan suaminya. Sejenak masih terduduk seraya malas untuk mendongak melihat wajah haru biru istrinya yang terlihat sungguh ikut prihatin.
"Semua sudah berlalu, waktu tidak bisa kembali di putar. Yah, kita hanya berharap bapak dan ibu di luar sana baik-baik saja," ujar istrinya tersenyum sendu di sertai suaminya mau beranjak bangun.
"Bun, ayah tidak'kan malu punya bapak yang wajahnya," belum habis ungkapan hatinya.