MENJUAL TERANG, MEMBELI GELAP

Herman Siem
Chapter #20

BERAT HATI MENERIMANYA

"Ayah Cobain deh. Nih. Enak'kan yah, kerupuknya?" kata Yoga mengunyah sembari berikan kerupuk pada ayahnya, dua lobang hidungnya mengendus mencium aroma kerupuk.

Yoga meletakan bungkusan kerupuk di meja saat ayahnya sejenak mencium aroma dan pelan giginya menggigit dan lidahnya mulai mengecap merasakan kerupuk dalam mulutnya. Agra terduduk, dua matanya terenyuh seraya hatinya semakin tidak bisa di pungkiri dengan rasa kerupuk yang sedang di kunyah dan meluncur kedalam kerongkongannya.

"Yah, kenapa kok sedih makan kerupuk itu?" bingung Yoga duduk di samping ayahnya kerupuk sampai habis di kunyahnya, tetapi kenapa dua matanya terenyuh sedih.

"Pasti ayah saking enaknya ngerasain kerupuk itu, sampai-sampai ayah terharu ya? Emang benar yah, yang dagang kerupuk itu udah tua. Nenek-nenek dan kakek-kakek. Kasihan ya, yah. Udah setua begitu masih saja mencari uang. Kemana ya, anak dan cucunya, kok nggak kasihan?" beranjak bangun dan mengambil kerupuk lagi, Yoga mengunyah sedikit tersenyum seraya meledek ayahnya semakin terenyuh sedih.

"Yoga, kamu mau ikut ayah sama bunda, nggak?" keluar bundanya sembari merapihkan hijab putih dan dress terusan warna crem senada dengan warna hijabnya.

"Emang ayah sama bunda mau kemana?" __ "Ayah sama bunda mau ngajakin kita nemuin kakek dan nenek, pedagang kerupuk itu, Yoga." bingung dan tanya lagi anak sulungnya, di jawab adiknya keluar dari kamar sembari menenteng sepasang sepatu kets warna hitam.

Makin tergurat bingung, sempat berhenti giginya tidak mengunyah kepuruk yang tidak lagi tidak garing. Yoga beranjak menghampiri bundanya langsung menunggingkan teko air dan mengisi gelas kosong. Segelas air di berikan pada suaminya sejenak menatap wajah istrinya tersenyum seraya menebarkan keyakinan padanya.

Segelas air di teguk habis dan beranjak bangun, gelas kosong di letakan bersebalahan dengan bungkusan kerupuk. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Yoga sedikit gusar melihat yang lainnya sudah rapi. Yoga bergegas masuk kedalam kamar dan keluar sudah menenteng sepatu kets warna putih.

"Yoga, emang kamu belum di kasih tahu sama bunda dan ayah?" __ " Kasih tahu apaan si?" sembari mengikat tali sepatu, Danu menoleh pada kakaknya semakin bingung dan baru selesai mengikat tali sepatu bagian kanannya.

"Apaan si bun? Yah?!" makin penasaran anak sulungnya selesai mengikat tali sepatu kets warna putih dan beranjak bangun.

Bunda dan ayahnya sejenak tidak menjawab, tahu jika sipat anak sulung pemarah dan pasti tidak menerima. Beda dengan anak keduanya yang selalu menerima keadaan dengan nada lembutnya, walau memang sering manja.

"Yoga, bunda dan ayah baru cerita samaku. Kalau kakek dan nenek pedagang kerupuk itu. Mereka itu, kakek dan nenek kita," sejenak Yoga mendengar penasaran ketika Danu menuturkan.

Lihat selengkapnya