MENJUAL TERANG, MEMBELI GELAP

Herman Siem
Chapter #21

PERGI TANPA PAMIT

Malam masih terasa panjang, masih berselimut gelap beratap langit sendu tanpa indahnya sinar indung rembulan malam. Hatinya semakin di landa kecemasan, dua matanya tak sempat berkedip seraya tajam perhatikan sekitar keluat jalan dan hatinya terus menjerit berteriak mencari dalam kesedihan.

Ingin menangis juga percuma, seraya telah kering air matanya sudah. Walau dua kakinya terasa sakit sampai lupa memakai alas kaki, tidak mengapa. Tidak lagi dua matanya menjadi penerang jalan cahaya untuk suaminya. Tidak lagi pundak kanannya menuntun jalan suaminya.

Suara tongkat sebagai penuntun jalan juga sudah tidak lagi terdengar mengetuk bumi sebagai petunjuk jalan. Hati dan pikirannya semakin terkulik cemas dan gelisah mencari di mana keberadaan suaminya. Suaminya pergi tanpa pamit meninggalkan pesan dan jejak padanya.

Kali ini justru Laya menuntun lengan kanan Siva, jarinya yang terlihat kecil dan langkahnya jalan sangat lamban. Kepalanya selalu menunduk saat berjalan, dan rambut tipisnya seraya bebas di permaikan dengan semilir angin. Tatapannya dalam hanya menjurus kedepan mengikuti seorang wanita tua yang begitu ikhlas menganggap sebagai anaknya.

"Pak. Bapak ..." __ "Bapak ..." suaranya serak parau dua wanita berjalan cepat, sejak tadi berteriak mencari berteman malam semakin gelap berselimut kesunyian.

"Bu!" teriaknya seraya menahan serasa sakit pada kakinya.

Sejak tadi lengan kanannya di tarik, saking panik dan karena cemasnya sampai wanita tua itu tidak sengaja menarik lengan tangan Siva sangat cepat. Cepat di papahnya dan menatap wajah menahan sakit, kakinya terkilir. Laya terenyuh sedih mengangguk seraya menguatkan hati anak gadis itu tersenyum kembali.

"Ayo bu, cari lagi bapak," kata Siva tersenyum, walau kakinya terkilir menahan sedikit rasa sakit.

Terasa lemas dua kakinya, pandangannya menatap kebawah dan dua matanya seraya tidak lagi bisa menahan kantuk. Fostur tubuhnya gempal dan setengah membungkuk, dua kakinya Siva hanya mengikuti langkah jalan seorang istri yang sedang kalut berselimut cemas mencari di mana suaminya berada.

Hati seorang istri mana yang tidak terkulik cemas dan khawatir ketika suaminya pergi tanpa pamit. Tidak tahu sampai kenapa suaminya pergi begitu saja, padahal dua matanya hanya bisa melihat kegepalan saja, dan walau dua kakinya berjalan hanya di bantu tongkat yang biasa mengetuk bumi sebagai petunjuk jalan.

Tidak tahu kemana perginya, padahal setahu istrinya jika suaminya baik-baik saja. "Bapak di mana?" gumannya dalam hati sedih, raut wajahnya semakin cemas. Pandangan Laya perhatikan sekitar, rasanya sulit dan mungkin sudah semakin jauh suaminya melangkah jalan pergi meninggalkannya.

Laya mengajak dua kakinya untuk tidak lagi mencari suaminya, seraya hatinya pasrah bercampur gelisah. Menoleh kebelakang, terenyuh sedih hatinya ada rasa kasihan pada gadis yang sejak tadi ditarik lengan kanannya hanya untuk mencari di mana suami tercintanya.

"Siva, kita pulang saja. Besok kita lanjutkan lagi mencari bapak, ya." kata Laya sedikit tersenyum, namun hatinya masih berselimut cemas.

Siva hanya mengangguk, mungkin dua matanya sudah tidak tahan menahan rasa kantuk. Menghela napas pelan, hatinya semakin berselimut cemas. Tatapan sendu haru tidak ingin berpaling hanya menatap wajah seorang gadis yang sesungguhnya tidak ingin terlahir berbeda dengan yang lainnya.

Lihat selengkapnya