Hatinya selalu bertanya sedih, dua matanya tidak bergeming menatap keluar jalan mencari anaknya sejak sedari semalam belum pulang. Kepergian anak sulungnya karena tidak ingin punya kakek yang dua matanya tidak bisa melihat, dan wajahnya seraya membuatnya malu.
Tuhan sesungguhnya telah menentukan garis kehidupan seseorang yang terlahir kedunia ini, tentu berbeda-beda. Ada kekurangan pasti ada kelebihan. Dan yang memiliki kelebihan, namun pasti ada kekurangan. Yang terjadi dengan kakeknya, sungguh memiliki banyak kekurangan, namun memiliki kelebihan yang sangat mulia hatinya.
Sampai kakeknya menjual terang dua matanya, hanya demi anaknya agar kembali bisa kembali melihat. Tidak mengapa saat ini hidupnya betapa sulitnya untuk kembali membeli terang, itu saat ini yang di rasakan kakenya.
Sepanjang jalan, dua mata Agra semakin cemas terundung kesedihan. Duduknya seraya gelisah, hatinya semakin terluka tidak biasanya sejauh ini dari anaknya.
Mandor Memet siang itu menemani Agra mencari di mana keberadaan anaknya. Semua sudut jalan sudah di datanginya, sampai masuk kedalam gang perumahan padat penduduk dan sampai mendatangi bertanya pada warga yang di tinggal di pemukiman kumuh.
Semua tidak tahu, mulutnya sulit menjawab di mana keberadaan anak itu. Hatinya semakin cemas, semakin terkulik kesedihan takut akan terjadi sesuatu dengan anaknya. Mobil kembali berjalan, kembali menyusuri jalan ibu kota. Tatapan matanya kembali tidak bergeming melihat kiri-kanan jalan, yang di carinya tidak ada.
Pagi terasa cepat berlalu, awan putih seraya belum ingin tersingkir pergi walau sudah terusik dengan semilir angin kering. Sementara pagi begitu sangat cerah dengan berteman dengan sinar terik sengatan matahari selalu menyinari setiap langkah jalan. Setiap sudut jalan masih di padati dengan lalu-lalang kendaraan di sertai suara bising klakson saling bersautan.
Mobil berhenti di lampu merah, pandangan Arga kembali tegas melihat kesamping kiri luar jalan. Biasanya banyak pedagang asongan berjualan, tapi siang itu tidak satupun terlihat pedagang asongan, termasuk tukang koran juga tidak terlihat. Hatinya semakin resah, dan guratan raut wajahnya semakin berselimut kesedihan.
Lampu merah sudah berganti dengan lampu hijau, mobil kembali berjalan. Keempat rodanya terus menggelinding kedepan tidak tahu kemana berjalan sampainya. Terenyuh sedih, hatinya ingin menangis pilu ketika jemari kanannya meraih sepasang sandal jepit yang di temukan di puing reruntuhan.
Sandal jepit itu milik ayahnya yang tidak sempat di bawanya. Ikut terenyuh sedih Mandor Memet, sekali menoleh kesamping kiri melihat sepasang sandal jelit dałam pelukan Agra.
***
"Bunda, aku takut terjadi sesuatu pada Yoga?" ujar adiknya sedih, hatinya merengek ingin mengajak menangis.
"Kita berdoa saja, semoga Yoga baik-baik saja," jawab bundanya duduk di samping anak bungsunya.
Siang itu keduanya di temani dengan Tri, sopir pribadi yang wajahnya juga tergurat cemas sekali menoleh kesamping. Mobil terus berjalan menyusuri jalan masih terbilang cukup padat. Perasaan bunda dan adiknya semakin terkulik cemas, hatinya semakin berbisik bertanya di mana anak itu pergi, dan saat ini sedang apa, apakah sudah makan.
"Kasihan Yoga, bunda. Apa Yoga sudah makan?" lagi ujar anak bungsunya pada bundanya semakin terenyuh sedih cemas.
"Mas Tri, coba nanti berhenti di lampu merah," __ "Baik bu." dilihatnya, di depan ada lampu merah. Kejora meminta sopir tua itu untuk menepikan mobil.
Memang di lampu merah banyak anak-anak sedang mengamen, ada yang mengemis dan berdagang asongan. Hatinya sedikit besar dan yakin, mungkin saja anak sulungnya ada di antara anak-anak itu.
Mobil berhenti di tepian jalan, tidak dengan Danu hanya menunggu di mobil bersama dengan sopir pribadinya. Sedangkan bundanya sudah turun, tidak peduli sengatan terik matahari menyengatnya sungguh terasa panas. Walau tangan kanannya di angkatnya menghalangi sinar terik matahari.
"Koran ..."
"Air, air dingin ..."