MENJUAL TERANG, MEMBELI GELAP

Herman Siem
Chapter #23

KEBAIKAN YANG TULUS

"Kek, aku lapar?" perutnya sejak tadi sudah memanggil rasa lapar, dan dua tangannya Yoga seraya menahan perih.

"Kamu lapar?" balik tanya kakek tua, tangan kirinya meraba-raba seraya memanggil angin tak berbentuk terasa kering dan panas.

Telapak tangan kasarnya mendarat mengelus wajah anak yang perutnya memanggil lapar. Tangan kakek buta itu mengelus meraba wajah anak yang semakin merasa perutnya memanggil lapar. Andai saja kakek itu tahu, pasti sangat sedih dan bahagia sekali bila anak yang pergi kabur dari rumah, anak itu adalah cucunya. Balas balikan tatapan Yoga sontak terenyuh sedih menatap lelaki tua, yang adalah kakeknya sendiri.

"Tuntun kakek ya. Kakek masih ada uang sedikit untuk beli makanan," jawabnya kembali tangannya meraba-raba dan jemarinya di tarik lalu di daratkan pada pundak kanannya Yoga.

"Kenapa kamu sampai kabur dari rumah?" tanya kakek tua, jalannya di papah oleh dua mata anak, siang itu pakaian dan sepatu kets yang di pakai masih sama.

"Aku kesal!" __ "Kesal kenapa kamu? Tidak baik kabur dari rumah. Pasti ayah dan ibunya bingung cemas memikirkan kamu," baru saja berujar, Yoga terenyuh sedih saat di jawab kakek tua yang sebenarnya, ia sendiri juga kabur dari rumah tanpa pamit.

"Warung nasinya sudah sampai belum?" tanya lelaki tua, hafal jemari kanannya merogoh saku celananya dan memberikan uang lembaran sepuluh ribu pada Yoga mengambilnya.

Hanya kegelapan saja di lihatnya, padahal hatinya kecil ingin melihat wajah wajah Yoga lalu bergegas masuk kedalam warung, uang pemberian kakek tua itu diberikan pada seorang wanita pemilik warung nasi. Sekali menoleh kebelakang, Yoga perhatikan seroang lelaki buta bertongkat, wajahnya sungguh khas dengan dwon syndrome dengan bertopi bulat menutupi kepalanya.

Sebungkus nasi di terimanya, dua kakinya rada ragu mengajaknya berjalan menghampiri kakek tua yang sejak tadi menunggunya depan warung nasi. Yoga sudah berdiri, tatapan matanya sendu dalam menatap wajah lelaki tua seraya tidak tahu bila anak itu sudah berdiri di hadapannya.

Dua mata Yoga menanar memerah berkaca-kaca, hatinya berbisik sedih seraya berkata sesungguhnya lelaki tua, yang masih malu ia akuinya sebagai kakeknya. Bila kakek tua sesungguhnya sangat baik dan tulus, sampai ikhlas dan relanya menjual dua terang matanya hanya demi ayahnya bisa kembali melihat.

"Sekarang kakek, hanya bisa melihat kegelapan saja. Terasa sulit untuk kembali bisa membeli terang dua matanya," guman Yoga dalam hatinya, dua matanya di paksa untuk tidak bersedih.

"Ayo kek. Kakek pasti lapar'kan? Kita makan sama-sama kek," jemari kirinya sudah mendarat di pundak Yoga berjalan di ikuti dari belakang lelaki tua berjalan dengan bantuan tongkatnya.

Tidak lagi berjalan, ketidak sukaan dan tidak terimaannya dengan keadaan kakek tua itu perlahan mulai sirna. Tangan kecilnya meraih dan ikut pegang tongkat lelaki tua, seraya menuntunya.

"Kek, duduk sini," kata Yoga.

Yoga duduk bersila di hadapan lelaki tua sudah duduk bersila, topinya di buka dan di letakannya samping duduknya. Jelas dua mata Yoga melihat wajah lelaki itu, tidak marah dan tidak gusar hatinya. Justru terenyuh sedih dua matanya Yoga, hatinya berbisik sedih.

"Kek makan, aku suapin." sendok berisi makanan sudah di depan mulut lelaki tua menggelengkan kepalanya.

"Kamu makan. Kamu lapar'kan?" ujar kakek, tangan kanannya meraba angin mencari sendok yang sudah dalam genggamannya.

Lihat selengkapnya