MENJUAL TERANG, MEMBELI GELAP

Herman Siem
Chapter #24

TANPA BAPAK DAN YOGA

"Baik, baik yah. Bunda segera otewe kesana," singkat jawabnya, ponsel di masukan kedalam tas selempang warna hitamnya, setelah bicara singkat dengan suaminya lewat sambungan telpon.

Tri menoleh kebelakang, Danu sudah tertidur di pangkuan bundanya sedikit tersenyum. Seperti ada kabar yang pelan-pelan mengusir kecemasan dari guratan raut wajah wanita berhijab putih.

"Mas Tri, kita sekantor Satpol PP. Barusan Mas Agra ngabarin, ibu ada di sana," ujar Kejora, wajahnya semakin tidak lagi tergurat cemas.

"Baik, baik bu." jawab sopir pribadi, raut wajahnya sedikit mengusir kecemasan.

Mobil kembali berjalan cepat, walau ibu mertuanya sudah di temukan oleh suaminya. Tetap saja hatinya masih berbisik cemas dan sedih, jika anak sulungnya masih tidak tahu berada di mana.

"Bu, Yoga gimana?" tanya sopir tuanya, wajahnya hanya menatap keluar jalan walau terhalang kaca.

Langit mulai datang senja, hatinya kembali terurai kecemasan walau kabar baik sudah di dengar. Tetap saja perasaan seorang ibu masih berteriak cemas, berteriak ingin bertemu dengan anaknya yang pergi tanpa pamit.

"Kita temuin, Mas Agra." jawab Kejora tidak yakin, pasti hati kecilnya masih di selimuti rasa kecemasan mendalam di mana anak sulung berada.

Senyumannya tidak bisa di pungkiri tergurat paksa bahagia, walau ibu mertuanya di temukan, tapi anak sulung dan bapak mertuanya tidak tahu di mana. Rasanya kebahagiannya itu belum sempurna.

Mobil terus berjalan menyusuri jalan semakin padat berbarengan jam pulang kerja. Sepanjang dalam perjalanan, dalam mobil hatinya semakin di landa kecemasan. Semakin terusik, semakin berbisik hati kecilnya semakin mengajaknya berusaha untuk tersenyum bahagia. Tidak bisa, sepanjang perjalanan dalam mobil, raut wajahnya kembali tergurat gelisah.

Sinar terik sengatan matahari perlahan indung panasnya mendarat tertutup dengan gumpalan awan kelabu yang mengajak semilir angin untuk menyempurnakan tugasnya menutupi indung sinar matahari agar segera beranjak peri. Malam telah datang, suasana hati semakin tidak terkendali, antara ingin menangis haru dan kegelisahan.

"Brugg!" __ "Bunda!" bentruan bemper mobil depan seperti menubruk sesuatu, sontak terjaga bangun terkejut Danu.

"Mas Tri?"

"Ada orang nyeberang tiba-tiba, bu."

"Bunda, dua orang itu mau ngapain?"

Panik sopir pribadi majukan wajahnya kedepan, terkejut bunda dan anaknya duduk di belakang perhatikan dua orang bertubuh kurus, dua orang itu yang tadi sudah menuding mengira bapak mertua dan anak bungsunya di sangka ingin mengemis.

Dua lelaki kurus, wajah dan bajunya kumal sepertinya sedang mabuk dan mencari gara-gara. Tri menoleh kebelakang, tidak hanya cemas dan gelisah bunda dan anak bungsunya itu semakin tercekam ketakutan.

Lihat selengkapnya