MENJUAL TERANG, MEMBELI GELAP

Herman Siem
Chapter #25

DUA MATA BAPAK UNTUKMU

Bingung dan cemas, pikirannya masih terjatuh dalam kubangan kegelisahan sejak tadi dua matanya tidak ingin beranjak pergi hanya menatap kakeknya masih terbaring di bangsal ruangan IGD rumah sakit. Yoga tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan jalan pulang saja tidak tahu.

Jantung semakin mengajaknya berdebar-debar, hatinya selalu mengajak berbisik memikirkan kondisi kakeknya yang sudah terkena rabies, dari gigitan anjing liar. Terenyuh sedih dua matanya, dua kakinya selalu di halang masuk kedalam ruangan IGD, alasan perawat biarkan kakeknya untuk terbaring istirahat.

Padahal sepeser uang saja tidak ada dalam saku celananya. Pikiran makin terkuras, kemana mencari uang untuk membayar biaya lelaki tua, yang tadi di rasa malu untuk menganggapnya sebagai kakek. Kali ini pikirannya sudah berbeda dengan melihat ketulusan kebaikan kakeknya, walau dua matanya tidak bisa melihat. Kebaikan lelaki tua itu sudah menolong terbebas dari sukaran.

Sungguh malang nasib kakeknya, dua matanya hanya bisa membeli kegelapan. Niat sudah terasa tulus ikhlas telah menjual dua terang matanya hanya untuk anaknya, kini bergegas cepat menemui. Kakek itu hanya terbaring tidak berdaya, kantong infusan tergantung dan jarum tajam kecil menusuk nadinya mengular cairan infusan untuk mengusir liur racun rabies dari tubuhnya.

"Dek, tolong bawa ini kebagian administrasi ya," pintu terbuka, tapi tetap saja Yoga tidak boleh masuk kedalam melihat kakeknya. Malahan perawat memberikan selembar kertas untuk segera di bawanya kebagian administrasi.

Sekilas di baca, makin bingung dan tidak tahu bagaimana. Jika tertulis, dalam selembar kertas itu, harus segera mencari kamar rawat inap dan pastinya butuh uang. Bodohnya anak itu, kenapa selama ini tidak menghafal nomor ponsel bunda dan ayahnya.

Kebiasan anak sekarang, terlalu sibuk dengan belajar dan belajar, walau bundanya ketat membatasi waktu untuk tidak serta merta hampir tiap waktu memegang ponsel untul main games. Dua kakinya sudah berjalan menyusuri lorong koridor terapit deretan pintu kamar tertutup, dalam kamar sedang terbaring pasien sedang melawan sakitnya.

Yoga tidak lantas memberikan selembar kertas pada bagian administrasi, hanya melewati loket administrasi saja. Tidak mungkin Yoga menjual sepatu kets yang di pakainya, tidak bakalan cukup untuk mengurus kamar rawat inap dan biaya perobatan kakeknya. Dua kakinya berjalan mengajak keluar ruangan loby melewati pintu kaca terbuka tutup otomatis.

Semakin berjalan keluar melewati pelataran halaman parkir rumah sakit. Yoga berhenti dan menoleh mendongak menatap gedung tinggi rumah sakit modern bertingkat tinggi, pastinya pasien yang di rawat di rumah sakit itu bukannya segera sembuh, tapi pikiran biayanya yang sangat mahal.

Dahaganya mulai memanggil untuk segera di siram dengan kesejukan air, jemari kanannya merogoh saku celana pendeknya. Keningnya berkerinyit saat jemari kanannya menujukan selembar uang kertas pecahan lima ribu rupiah. Menghela napas, mungkin cukup uang segitu untuk mengusir rasa haus dahaganya.

"Bang beli air," selembar uang di sodorkan Yoga pada penjual mengambil dan memberikan sebotol air kemasan dingin.

"Makasih bang," lagi kata Yoga membuka penutup botol dan meneguknya.

Yoga terduduk di trotoar tepian jalan, pikirannya tidak tahu kemana. Tatapan dua matanya hanya perhatikan sorot lampu kendaraan yang lalu-lalang berlawanan arah depan matanya.

"Lagian aku kabur dari rumah. Semua nomor handfhone ayah dan bunda dalam tas sekolahku," gumam kesal sendiri sekali lagi mengusir dahaga hausnya menenguk sebotol minuman dingin.

"Kasihan kakek, untung aku cepat bawa kerumah sakit. Maafin aku ya kek. Aku sadar, kebaikan kakek begitu tulus samaku. Walau dua mata kakek tidak bisa melihat. Kakek rela berbuat segalanya, sampai di gigit anjing hanya ingin selamatin aku," gumamnya sendiri semakin sedih, air botol kemasan tersisa setengah di letakannya di samping duduknya.

Yoga lalu menundukan wajahnya, dua matanya sudah terlalu lelah dan ingin mengajak terpejam walau cuman sebentar saja. Baru saja menunduk, dua matanya melihat dua sepasang kaki beralas sandal selop dan sepatu pantofel hitam.

Lihat selengkapnya