Blurb
Ketika badai kebangkrutan menghancurkan usaha konveksinya dan pengkhianatan meluluhlantakkan fondasi dunianya, Fatimah mengira hidupnya telah sampai di ujung jalan. Terasing di sudut Jakarta Timur dengan sisa-sisa harapan yang remuk, ia hanya memiliki satu tempat untuk berserah: sajadah di Musala Al-Ikhlas.
Di tempat yang bersahaja itu, takdir mempertemukannya dengan Ustaz Rayhan—sosok pembimbing bernuranikan ketenangan yang mengajarinya bahwa ridha bukan berarti menyerah, melainkan keberanian untuk melapangkan dada atas segala ketentuan Sang Maha Pencipta. Berdua, mereka merintis kembali roda kehidupan dari sebuah dapur katering kecil, merajut asa di tengah prasangka, dan pelan-pelan merangkul mereka yang pernah menjadi bagian dari luka masa lalu.
Dari keikhlasan yang ditanam di atas sajadah, benih-benih keberkahan tumbuh mekar. Dapur katering sederhana itu bertransformasi menjadi pilar pemberdayaan masyarakat, sementara hati yang terluka perlahan dipulihkan oleh maaf dan ketakwaan. Hingga akhirnya, hadirnya malaikat kecil Aisyah Humaira Al-Farisi menjadi bukti nyata bahwa janji Allah tak pernah ingkar.
Sebuah kisah tentang perjalanan jiwa menemukan kedamaian sejati, kekuatan maaf, dan indahnya buah kepasrahan di ujung pertolongan-Nya.