MENUJU TELAGA RIDHA

Suhendar
Chapter #1

BAB 1: SURAT YANG SALAH

Suara dering telepon menggema di atas meja kerja kayu mahoni. Fatimah membetulkan posisi duduknya, lalu menggeser layar ponsel yang menyala. Nama Bagas, manajer operasional keuangannya, tertera di sana.

"Ya, Gas? Ada kabar dari vendor kain?" Fatimah langsung membuka percakapan tanpa basa-basi. Tangannya sibuk memeriksa lembar pemeriksaan produksi.

"Mbak... Mbak Fatimah di mana?" Suara Bagas terdengar gemetar di ujung telepon. Ada kebisingan latar belakang seperti deru mesin dan hiruk-pikuk orang berbincang.

Fatimah menghentikan pulpennya. "Masih di workshop. Kenapa? Suaramu aneh."

"Mbak, bank baru saja telepon ke saya. Surat peringatan ketiga pembayaran cicilan modal kerja sudah keluar. Besok batas akhirnya, Mbak," ujar Bagas dengan napas terengah-engah.

Dahi Fatimah berkerut dalam. "Tunggu dulu. Bukannya minggu lalu dana dari Pak Hutomo sudah masuk? Mas Dion kan bilang transaksi seratus lima puluh juta itu sudah diselesaikan untuk menutup cicilan bank?"

"Itu dia masalahnya, Mbak... Mas Dion dari tadi pagi tidak bisa dihubungi. Saya sekarang lagi di depan ruko kantor pusatnya. Pintunya dikunci gembok dari luar. Papan namanya sudah dicopot."

Fatimah berdiri seketika, membuat kursi kerjanya terdorong ke belakang dengan bunyi berdecit keras. "Jangan becanda kamu, Gas! Dion itu mitra utama kita. Dia yang pegang dana investasi dari Pak Hutomo!"

"Saya tidak bercanda, Mbak! Tetangga ruko bilang, seluruh barang di dalam kantor sudah diangkut pikap sejak kemarin subuh. Mas Dion hilang, Mbak!"

Telepon ditutup sepihak oleh Fatimah. Jantungnya berdegup kencang, memukul dadanya dengan ketukan liar. Tanpa membuang waktu, ia menyambar kunci mobil dan tas tangannya, lalu berlari menuju area parkir tanpa peduli pada sapaan para penjahit yang sedang bekerja.

Lihat selengkapnya