Langkah kaki Fatimah terasa amat berat saat mendorong pintu kaca kafe yang bersuasana tenang di sudut kota. Suara denting cangkir dan musik instrumental yang lembut bersahut-sahutan, sangat berbanding terbalik dengan gemuruh ketakutan di dalam dadanya. Pikiran Fatimah terbelah hebat antara kabar ibunya yang panik tentang kondisi jantung Pak Ahmad dan musibah penipuan Dion yang melahap seluruh modal usahanya.
Di sudut meja dekat jendela, Rahman sudah duduk menanti. Kemeja kerjanya rapi, namun wajahnya tampak tegang dan tertekuk datar.
Fatimah segera menghampiri meja itu dan duduk tanpa melepas tasnya. Tangannya gemetar saat diletakkan di atas meja.
"Mas, kita harus cepat. Ibu baru saja telepon, Ayah mengeluh dada sakit dan muntah darah di rumah," kata Fatimah dengan suara tertahan. "Aku harus bawa Ayah ke rumah sakit sekarang. Soal bisnisku yang ditipu Dion."
"Aku mau kita batalkan pernikahan ini, Fatimah."
Kata-kata itu meluncur dari mulut Rahman begitu tenang, begitu lugas, hingga menghentikan seluruh kalimat Fatimah di udara. Dengung musik kafe mendadak seolah hilang dari pendengaran Fatimah.
"Kamu... bicara apa, Mas?" Fatimah menatap Rahman, mencari jejak kebohongan atau candaan di mata tunangannya itu. "Pernikahan kita tinggal dua bulan lagi. Undangan sudah dicetak. Katering dan gedung..."
"Aku serius," potong Rahman tegas. Pria itu memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke mata Fatimah tanpa ada keraguan. "Aku tidak bisa melanjutkan ini. Aku sudah memikirkannya matang-matang."
"Alasannya apa, Mas?" Suara Fatimah bergetar, berjuang keras menahan air mata yang mulai menumpuk di pelupuk matanya. "Karena bisnisku hancur? Karena aku sedang ditimpa masalah utang hari ini? Cuma karena itu kamu tega tinggalkan aku di saat seperti ini?"