Fatimah berlari melintasi halaman rumahnya, menerobos kerumunan tetangga yang menatapnya dengan pandangan kasihan. Dua petugas medis tampak tergesa-gesa mendorong tandu keluar dari pintu depan. Di atas tandu itu, Pak Ahmad terbaring pucat dengan masker oksigen menutupi hidung dan mulutnya. Matanya terpejam rapat.
"Ayah!" jerit Fatimah sambil menahan roda tandu sejenak. Tangannya yang gemetar menyentuh dahi sang ayah yang dingin dan basah oleh keringat dingin. "Ayah, ini Fatimah, Yah..."
"Mbak, tolong beri jalan. Kondisi pasien kritis, tekanan darahnya drop drastis," tegur salah satu petugas medis dengan nada cepat dan tegas.
Sebelum Fatimah sempat melangkah menyusul ke dalam ambulans, tangan Ibu Mariam menarik bahunya dengan cengkeraman kuat. Wajah ibunya sembap, matanya merah menyala dipenuhi amarah dan kepanikan yang membuncah.
"Kamu dari mana saja, Fatimah?!" bentak Ibu Mariam dengan suara melengking di depan para tetangga. "Ayahmu pingsan gara-gara ketakutan memikirkan kamu!"
"Ibu, kita ikut ke rumah sakit sekarang, nanti aku jelaskan di sana."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi!" potong Ibu Mariam kasar. Ia mendorong dada Fatimah hingga anaknya itu terundur satu langkah. "Ibu sudah dengar semuanya dari Bagas! Bagas telepon ke rumah mencari kamu karena orang bank datang! Kamu ditipu Dion, kan? Uang ratusan juta melayang, kan?!"
Fatimah menahan napasnya. Tenggorokannya terasa tersumbat. "Bu, aku juga korban di sini. Dion membawa lari semua uang perusahaan..."
"Korban kamu bilang?!" Suara Ibu Mariam makin meninggi, mengabaikan sirine ambulans yang mulai meraung meninggalkan pekarangan rumah. "Dari awal Ibu sudah bilang, jangan sok keren jadi pengusaha! Ikut orang saja yang aman! Sekarang apa? Ayahmu kaget mendengar kamu punya utang ratusan juta sampai serangan jantungnya kumat! Kalau terjadi apa-apa sama Ayahmu, kamu penyebabnya, Fatimah!"
Kata-kata itu menghantam dada Fatimah lebih keras daripada benturan fisik apa pun. Rumah yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung dari kekejaman dunia luar, kini justru menjadi tempat yang paling asing dan menyakitkan.
"Bu, tolong... jangan bicara begitu," bisik Fatimah, air matanya menetes tanpa bisa ditahan lagi. "Aku sedang berjuang menyelesaikan ini. Mas Rahman juga."
"Nah, ingat Rahman!" potong Ibu Mariam cepat, raut wajahnya mendadak berubah penuh harap yang cemas. "Telepon Rahman sekarang! Minta bantuan keluarga Rahman! Keluarganya kan kaya, punya banyak relasi. Rahman pasti bisa talangi utangmu dan bayar biaya rumah sakit Ayah!"
Fatimah menggelengkan kepala perlahan. Bibirnya gemetar hebat saat harus menyampaikan kenyataan pahit yang baru saja menimpanya sepuluh menit lalu.
"Mas Rahman... sudah membatalkan pernikahan kita, Bu," ujar Fatimah lirih.