Lampu merah penanda ruang tindakan ICU menyala samar di ujung koridor yang dingin. Bau antiseptik menyeruak tajam, namun tak mampu menutupi rasa sesak yang menghimpit dada Fatimah. Berita penyegelan rumah dari pihak penagih utang masih berdengung di telinganya, menumpuk krisis di atas kehancuran yang sudah ada.
Ibu Mariam berdiri dari kursi tunggu, menatap Fatimah dengan mata sembap yang dipenuhi tuntutan. "Bagaimana, Fatimah? Ada uang lima puluh juta itu? Dokternya butuh kepastian sekarang!"
Fatimah menelan ludah. Tenggorokannya terasa kaku. "Bu... saldo di rekening pribadi Fatimah tidak cukup. Seluruh tabungan usaha ada di rekening bersama yang dibawa lari Dion."
"Apa?!" Suara Ibu Mariam melengking melintasi koridor sunyi rumah sakit. "Terus Ayahmu bagaimana?! Kamu mau membiarkan Ayahmu mati karena kamu tidak bisa bayar uang muka?!"
"Bukan begitu, Bu... Fatimah lagi usahakan cari pinjaman," potong Fatimah dengan suara serak, menahan tangis yang mendesak keluar.
"Cari pinjaman ke siapa?!" cibir Ibu Mariam hysteris. "Teman-teman bisnismu mana? Rahman mana?! Telepon Rahman lagi! Minta tolong dia, Fatimah! Demi Ayahmu!"
"Mas Rahman tidak bisa dihubungi lagi, Bu. Dia sudah lepas tangan," jawab Fatimah jujur, mengingat perlakuan dingin mantan tunangannya di kafe tadi.
Ibu Mariam menggelengkan kepala tidak percaya, lalu jatuh terduduk di kursi besi koridor sambil menangkupkan wajahnya. "Ya Allah... dosa apa keluarga kita sampai harus begini? Rumah mau disita, suami mau mati, anak pertama malah membawa sial!"
Kata-kata ibunya menghantam penderitaan Fatimah hingga ke batas paling dalam. Namun, ia tidak punya waktu untuk meratapi nasib. Ayahnya di dalam sana membutuhkan tindakan nyata, bukan histeria.
Fatimah berbalik melangkah menuju loket administrasi rumah sakit. Di balik kaca bening, seorang petugas wanita menatapnya dengan raut wajah formal.
"Mbak, tolong... apa tidak bisa tindakan operasi ayah saya dilakukan dulu? Saya jamin, besok pagi saya akan lunasi uang mukanya," panggil Fatimah memohon, jemarinya meremas tepi meja loket.
Petugas itu menghela napas pelan. "Maaf, Ibu Fatimah. Ini prosedur standar rumah sakit untuk tindakan operasi besar. Tanpa uang muka atau jaminan asuransi yang valid, sistem tidak bisa menerbitkan izin ruang operasi."
"Ini soal nyawa manusia, Mbak! Ayah saya kritis!" tegur Fatimah, suaranya bergetar hebat.