MENUJU TELAGA RIDHA

Suhendar
Chapter #5

BAB 5 : SAJADAH TANPA KATA

Jarum jam dinding menunjuk ke angka tiga pagi. Di dalam ruang perawatan intensif, Pak Ahmad terbaring tak berdaya dengan selang-selang medis yang menopang napasnya. Operasi berjalan lancar, namun kesadarannya belum juga kembali.

Fatimah berdiri kaku di balik kaca bening ruang ICU. Kepalanya berat, dipenuhi serbuan krisis yang tak kunjung berhenti: ancaman pidana dokumen palsu, penyitaan rumah besok pagi, serta sikap Rahman yang meninggalkannya begitu saja di tengah puing kehancuran usahanya.

Ibu Mariam tertidur lelah di kursi besi koridor, sementara Hafiz baru saja pamit keluar untuk mengurus berkas sanggahan hukum ke kantor polisi.

Langkah kaki Fatimah bergeser perlahan menuju musala kecil di ujung lorong rumah sakit. Musala itu sepi dan redup. Hanya ada hembusan pendingin udara yang berembus dingin menyapu kulitnya.

Fatimah mengambil air wudu. Kucuran air dingin yang membasahi wajah dan tangannya tak mampu mengikis rasa panas di dadanya. Dengan tubuh bergetar, ia menggelar sajadah di sudut ruangan yang paling gelap.

Ia merapatkan mukena, mengangkat kedua tangan, lalu bertakbir.

Namun, saat dahinya menyentuh kain sajadah pada sujud terakhir, seluruh pertahanan dirinya remuk. Air matanya menetes tanpa henti, meresap ke dalam serat kain sajadah di bawah dadanya. Fatimah tidak mampu lagi menyusun kata-kata doa yang indah atau kalimat permintaan yang tersusun rapi. Suaranya tercekat di tenggorokan.

Ada masa ketika ia sudah terlalu lelah untuk meminta apa pun. Ia terlalu lelah bertanya mengapa Dion mengkhianatinya, mengapa Rahman tega meninggalkannya, dan kapan penderitaan ini akan berakhir.

Lihat selengkapnya