Indonesia, akhir Februari 2023
“Nan, kamu ingat nggak sama Alif? Itu loh keponakan Bapak? Kalian sekelas waktu SD. Ingat nggak?” Obrolan-obrolan seputar pernikahan dan perjodohan lagi-lagi ditarik Ibu ke permukaan. Awalnya ibu meminta dengan ragu-ragu, menggunakan nada yang sedikit sungkan.
Sinan hanya mengendikkan bahu tak acuh. Topik itu mulai membuatnya muak.
“Waktu di pernikahan Mawra ibunya Alif sempat lihat kamu. Dia tanya kamu sudah nikah apa belum. Kalau belum, dia rencana mau jodohkan kamu sama Alif. Gimana menurut kamu?” ibu mengucapkannya seolah bertanya yang berarti ia menunggu jawaban dan keputusan Sinan.
“Gimana kalau kita coba dulu ketemu sama keluarganya? Siapa tahu ada jalan.” Kemudian pertanyaan itu muncul seperti saran.
“Nggak usah repot-repot, bu.” Potong Sinan cepat.
Semestinya ibu sudah tahu bagaimana Sinan akan bereaksi. Sebab mengatur rencana perjodohan untuk gadis itu bukanlah hal baru.
Sebulan setelah kematian Bapak, adik laki-laki Ibu menyarankan agar Ibu segera mencari jodoh untuk Sinan.
“Mempertimbangkan soal keadaan ekonomi dan tabiat anak itu. Dia keras kepala dan susah diatur.” Demikian sang paman berujar. "Daripada nanti jadi masalah, ada baiknya kalau dia dinikahkan secepatnya."
Ibu terpengaruh, karenanya ia memberi kuasa pada Paman untuk mendatangkan calon bagi Sinan.
“Kalau masalah kesanggupan, paling tidak saya punya lima juta untuk uang belanja.” Ujar pelamar pertama. “kekurangannya nanti keluarga juga akan membantu.” Lanjutnya sungkan. Pelamar pertama ini adalah seorang pembina muda di pondok pesantren milik paman Sinan.
“Apa tidak bisa jumlahnya dinaikkan sedikit?” kata ibu. “Kok rasanya berat ya, bikin hajatan modal lima juta.”
“Bisa saya usahakan nanti.” Ucap lelaki itu takzim. “Tapi kalau boleh tahu sebelumnya, keluarga minta berapa?”
“Lima puluh juta.” Dengan cepat Sinan menukas.
Sontak saja semua yang hadir dalam pertemuan itu menoleh padanya.
“Biarkan ini jadi pembicaraan orang tua dulu.” Sergah paman yang ditunjuk sebagai juru bicara pada pertemuan itu. “Kamu cukup menunggu keputusan kami.”
“Loh kan, saya yang mau dilamar? Wajar kan kalau saya juga berpendapat.” Sinan berkata dengan nada tajam, namun ekspresi wajah gadis itu tampak tenang.
Wajah sang paman memerah oleh amarah bercampur malu karena ucapan Sinan. Belum pernah ada anak perempuan dalam keluarga besarnya yang berani bersikap seperti itu. Mereka semua menurut pada keputusan orang tua. Terutama soal perjodohan.
Tidak selesai sampai di situ, Sinan melanjutkan, “Itu baru uang belanja, ya? Belum termasuk mahar.”
“Maksudnya mahar sama uang belanja berbeda?” lelaki itu memastikan.
“Iya. Uang belanja lima puluh juta, maharnya satu set perhiasan emas total dua puluh gram.” Sinan bertaruh, lelaki itu tak mungkin menyanggupi syarat yang ia ajukan.
Pertemuan itu mendadak canggung setelah ucapan Sinan. Tak ada lagi yang buka suara dan mengungkit-ungkit soal mahar dan uang belanja bahkan sampai keluarga calon pelamar pamit.
Beberapa hari kemudian, lewat panggilan telepon lelaki itu memutuskan untuk mundur. Sinan disidang. Paman mencecarnya. Dia menuduh Sinan lancang dan tidak punya adab. Sinan tidak bersuara dan membiarkan saja Paman menceramahinya dengan berupa-rupa kutipan dalil agar Sinan memperbaiki sikapnya.