Menuju Titik Nol

Murasaki Okada
Chapter #22

Lingkaran Buta

Indonesia, awal Maret 2023

Seberkas cahaya dari luar jendela hotel menyinari nakas di samping tempat tidur. Cahaya itu juga menerangi benda-benda di atasnya: gelas separuh kosong, sebungkus tisu, serta wadah pil tidur yang diresepkan seorang psikiater pada kunjungan Sinan terakhir kali sekitar dua bulan lalu.

Gadis itu bolak-balik dengan gelisah di ranjangnya. Usahanya untuk tidur pulas tidak berhasil, kendati ia telah menelan pil tidur sesuai resep. Pikiran suram yang terbentuk usai konflik dengan Ibu kemarin, kembali mengapung dalam benak Sinan. Dia gegas mengemasi barang bawaannya yang tidak lebih dari satu koper dan keluar dari rumah itu. Awalnya Sinan berniat untuk menginap di rumah lama mereka, namun pada akhirnya urung. Lebih dari apapun, dia ingin sendirian sekarang.

Lalu serangan itu kembali datang, begitu bersikukuhnya walau tak diundang. Mula-mula Sinan mengalami gejala seperti biasa: keributan, rasa kebas, tubuh menegang lalu gemetar. Tapi karena pengaruh pil tidur mulai bekerja, dia gagal sampai ke bagian di mana rasa nyeri itu berpusat di satu titik. Pandangannya menggelap, lalu dengan cepat berubah hitam. Sinan tahu-tahu terjerumus kedalam sebuah kehampaan yang belum pernah dia alami.

          *****

Sebuah mimpi menyelinap. Sinan melihat dirinya berjalan menembus kabut, seakan-akan ada sebuah tempat yang harus ia tuju. Saat gadis itu kemudian tiba di sebuah padang berumput, ia menjumpai sebuah pondok kayu. Ketika akhirnya Sinan tiba di depan pondok kayu itu, ia membuka pintu. Seketika Sinan disambut udara pengap. Ia tahu, itu hanya persepsi yang diberikan otaknya, sebab kenyataannya indra seseorang tidak berfungsi dalam mimpi sebagaimana di dunia nyata. 

Ruangan itu berukuran cukup luas, paling tidak seluas garasi ganda. Di dalamnya terdapat peralatan yang jamak ditemukan dalam gudang penyimpanan, seperti gerobak dorong, sekop, penggaruk, pangkur dan kaleng-kaleng cat yang tersusun di pojok. Lampu pijar yang tergantung di langit-langit memandikan benda-benda dalam ruangan itu dengan cahaya yang tak menentu.

Selama beberapa saat pandangan Sinan menyapu ke sekeliling ruangan yang sepi itu. Kemudian ia dikejutkan oleh langkah-langkah kaki di belakangnya. Ketika berbalik, Sinan mendapati seseorang berdiri di sana. Sejenak wujudnya tampak kabur, seolah Sinan melihatnya melalui sebuah kaca. Jadi ia memejamkan mata untuk menjernihkan penglihatan. Dan benar, kini ia melihat sosok itu dengan jelas. 

Nina.

Anak itu tampak semuram saat terakhir kali Sinan melihatnya. Ia penuh luka dengan pakaian compang-camping, dan bertelanjang kaki. Eksprsesi wajah Nina saat itu begitu memilukan. Lalu sensasi itu terasa oleh Sinan: sebuah pernyataan keputusasaan. Ketika ia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, Sinan seakan-akan mendengar Nina berkata, “Kau yang seharusnya melakukan ini.” Kata-kata itu mendatangkan rasa dingin yang menjalar dari titik kecil di punggung, lalu naik ke tulang belakang, menyebar ke kulit kepala, dan berpengar di seluruh tubuh, membuat bulu kuduk Sinan meremang.

Ia tersentak bangun. Terseret keluar dari mimpi ganjil yang baru saja dialaminya. Sinan berbaring telentang di tengah-tengah ranjang, tatapannya berbalut kekhawatiran, membentur langit-langit. 

Kesuraman kian terbentuk karena mimpi yang memperlihatkan gadis kecil itu benar-benar baru baginya. Apakah mimpi itu adalah sebuah pertanda? Atau dirinya hanya terpengaruh oleh hal-hal ganjil yang diperlihatkan Nina beberapa waktu lalu? Benak Sinan tidak mampu menafsirkan apapun. Sekarang dia tidak tahu apakah dirinya bisa kembali tidur.               

*****

Alarm itu akhirnya mati pada pukul delapan pagi. Kepala Sinan berdenyut hebat. Ada dua hal yang ingin ia hindari saat itu. Rasa mual karena tidur yang terganggu dan lusinan pesan serta panggilan tak terjawab di ponselnya. Setelah agak lama ia mengangkat kepala dari bantal. Sinan mengibaskan kepala agar pandangannya jernih. Ia terpaku di ranjang selama beberapa saat.

Lihat selengkapnya