Menuju Titik Nol

Chibi Chan
Chapter #23

Jembatan Lapuk

“Mau diapain barang-barang ini?” Sinan bertanya ketika berpapasan dengan Shinji sesaat setelah memasuki halaman rumah Sabrang. Dia sebenarnya sudah enggan menginjakkan kaki lagi ke tempat itu, namun hari ini Sinan datang untuk menemui Ibu dan berpamitan. Ia tak tahu bagaimana Ibu akan bereaksi, mengingat perdebatan mereka tempo hari belum mencapai titik resolusi. Sepanjang suasana berkabung pun tidak ada kontak atau komunikasi yang terjalin antara kedua ibu dan anak itu. 

Tidak apa-apa pergi seperti ini. Dia toh penah melakukan itu sebelumnya, dan tak sedetik pun dalam hidup Sinan menyesalinya.

 “Mau dikasih ke panti asuhan. Kak Malaya yang suruh.” Adik bungsunya saat itu sedang sibuk mengangkut kardus ke atas mobil.

“Ini barang-barang Nina?”

“Iya, kak Malaya bilang kamar Nina mau dikosongkan, jadi barang-barangnya mesti disingkirkan.”

Sinan mengangguk sebagai tanggapan. Yah, siapa yang bisa menyalahkan Malaya? Dia mungkin bisa sangat mencintai Nina seperti anak sendiri, tetapi saat objek cinta itu sudah tidak ada, apa gunanya memelihara benda-benda yang hanya akan menciptakan luka?

Perhatian Sinan kemudian tersita oleh keberadaan tumpukan kardus yang tersusun begitu dia tiba di puncak tangga. Dia mendekat barang-barang itu, memeriksanya selintasan. Tumpukan paling atas rupanya tidak tersegel. Secara impulsif, Sinan menengok isinya lalu mendapati sekumpulan buku tulis. Sambil jemarinya bergerak memindai, dia mengambil satu. Sinan membalik-balik lembaran buku bersampul kuning itu setengah perhatian. Untuk sesaat Sinan terpana. Rupanya Nina memiliki bakat menggambar yang mengesankan. Beberapa bagian dari buku itu memuat gambar tokoh-tokoh kartun yang dibuat sedemikian rupa bagusnya. Secara periodik Sinan kemudian mengambil buku yang lain dan meletakkan buku sebelumnya. Sejenak memindai isinya lalu meletakkannya kembali ke dalam kardus. Begitu seterusnya hingga akhirnya ia menemukan sebuah buku yang tampilannya agak lain. Sampulnya lusuh dengan sejumlah lipatan dan berupa-rupa coretan acak.

Sinan mengangkat buku itu, membalik halamannya. Seketika Sinan membeku. Ketakutan ganjil menyerang otaknya seperti hantaman palu. Dia sama sekali tidak menyiapkan mental untuk apa yang dilihatnya: kata-kata dan kalimat vulgar tentang adegan hubungan seksual membentang di sepanjang halaman buku itu. Tidak ditulis dalam paragraf utuh, tetapi hanya potongan-potongan kalimat acak. Sinan bahkan menemukan gambar alat kelamin pria dan wanita yang bertebaran hampir di setiap sisa halaman. Yang paling membuat Sinan tertohok hingga ke tulang sumsum adalah kata-kata: ayah sabrang nusuk-nusuk punya aku dan ditusuk pake punya ayah sakit tau.

  Pikiran Sinan memucat, tubuhnya gigil seolah dihinggapi penyakit angin duduk. Kabut itu akhirnya terangkat setelah sekian lama. Seharusnya sejak awal Sinan tidak mengabaikan tanda-tanda kerusakan pada gadis kecil itu. Dia melihatnya, bahkan telah membuat asumsi. Tapi dia tidak bertindak.

  Nina yang malam itu datang ke kamarnya, sedang berjuang untuk melawan keinginan penghancuran diri. Bagaimana Sinan bisa begitu abai pada isyarat permintaan tolong yang coba disuarakan anak kecil itu? Padahal dia juga berada di di lubang yang sama. Terperangkap dalam keputusasaan dan rasa takut tanpa batas waktu. Sinan ingin melolong, menjerit sekuat paru-parunya. Didekapnya buku itu di dada. Sinan lalu berbalik dan dengan langkah tersaru-saruk ia berjalan menuruni tangga.

            *****

Petang menyembur perlahan dalam bentuk garis magenta samar-samar. Lampu-lampu jalan menyala di pusat kota, deretan gedung bersinar dengan cahaya putih dan emas, tampak seperti garis laut di pelabuhan. Lapisan tipis lembayung pada horizon sebelah barat adalah hal yang tersisa di penghujung hari itu.

Lentera-lentera khas Jepang di restoran kecil itu memendar hangat. Sinan melangkahkan kakinya menuju salah satu kursi di depan bar saji yang panjang. Di dalam bangunan sederhana nan apik itu, udara hangat dan lembap terasa lumayan bahkan ketika bercampur dengan dengan kabut asap tembakau.

Sinan kemudian memesan Amazake, jenis sake tanpa alkohol pada salah seorang pelayan. Sembari duduk menghadap bar saji, Sinan berusaha meletakkan pikiran yang terasa penuh dan kacau. Kenyataannya adalah bahwa dia mungkin saja bisa mencegah tragedi yang menimpa Nina. Andai saja Sinan mau sedikit lebih bertindak dan tidak mengabaikan tanda-tanda kerusakan pada anak itu. Hanya karena tidak ingin melibatkan diri, dia membiarkan Nina berlari sendirian menuju jurang kematian. Andai saja dia tidak membiarkan egonya mengambil keputusan. Mungkin akan ada jalan untuk menyelematkan Nina.

Entah sudah berapa lama Nina hidup dalam mimpi buruk. Setiap gerakan dipenuhi terror yang tidak diketahui oleh orang lain di sekitarnya. Luka dan kerusakan yang Sinan temukan pada dirinya di masa lalu, sudah pasti dimiliki oleh Nina juga. 

Dada Sinan kembali bergemuruh karena kemarahan manakala menyadari bahwa sumber tunggal kejahatan itu adalah orang yang sama. 

Sabrang!

Gadis itu sadar bahwa kebungkamannya selama ini diam-diam telah menjadikannya kaki-tangan dalam perilaku rahasia Sabrang yang menjijikkan. Apa pun alasannya, kenyataan bahwa Sinan menutupi perbuatan keji lelaki itu hingga berkembang menjadi sesuatu yang mengerikan.

Pesanan Sinan tiba. Dengan cepat ia meneguknya dalam satu muatan besar. Rasa manis yang menyenangkan melintasi kerongkongan dan menggenang dalam perut. Gadis itu memejamkan mata dan menghela napas dengan gelisah.

Sebuah desakan untuk mengkonfrontasi perbuatan lelaki itu merongrong Sinan hingga ke batas nyaris tak tertanggungkan. Pandangan Sinan kemudian tertumpu pada buku catatan Nina yang ia letakkan di atas meja sesaat setelah ia duduk. Segaris sinar terang tahu-tahu menembusi kabut pekat di otaknya. Ia tahu apa yang harus dilakukan.

Lihat selengkapnya