From: mali35881@gmail.com
Date: March 10 2023: 20.39
To: mimar.sinan00@gmail.com
Subject: -
Kuharap alamat ini masih kamu gunakan. Aku tahu sudah dua belas tahun. Tapi tidak ada salahnya mencoba. Jika email ini sampai padamu, hubungi aku di nomor whatsapp +218922079865. Ada hal penting yang harus kusampaikan.
Temanmu, Nawal.
Sinan menatap layar ponsel nyaris tanpa berkedip. Email itu sampai padanya sejak satu jam lalu dan entah sudah berapa kali Sinan mengulang-ulang untuk membacanya. Dia tidak juga bergerak untuk mengikuti permintaan si pengirim, terlalu takut untuk berhadapan pada apa yang mungkin akan dia dengar. Apa pun yang hendak disampaikan Nawal, Sinan hampir pasti bahwa itu berkaitan dengan Ragib. Pikiran itu membuat organ-organ Sinan kacau balau, seolah lupa berfungsi. Ia merasa mual karena kecemasan aneh mengaduk-aduk perutnya.
Tangan Sinan kemudian bergerak untuk mengetikkan nomor. Tapi butuh tiga puluh menit penuh sebelum Sinan membulatkan tekad untuk mengetik pesan lalu menekan pilihan ‘kirim’.
Assalamu alaikum, aku menerima emailmu Nawal.
Kurang dari satu menit setelah Sinan mengirim pesan itu, sebuah panggilan video masuk. Gadis itu tegak di dudukannya, menatap layar dengan kecemasan berlipat-lipat. Sinan merasakan simpul aneh mengencang di perutnya segera setelah panggilan video terhubung dan wajah Nawal tampak di layar.
“Halo, kaifa haalki?” Nawal memulai.
“Khair, alhamdulillah. Kamu sendiri apa kabar?”
“Aku baik, semua orang di sini menanyakan tentangmu. Mereka mengirim salam untukmu, Sinan.”
“Sampaikan salam untuk mereka juga.” Sinan menarik satu senyum, berusaha agar dirinya tampak riang. Sayangnya, getir memutuskan untuk menampakkan wujud.
“Astaga, dua belas tahun kamu bahkan tidak berubah sama sekali.” Nawal berujar dengan keriangan yang ia harap bisa mengenyahkan ketegangan. “sementara aku, lihat diriku. Bahkan bernapas saja bisa membuatku naik berat badan.” Nawal tegelak.
Sinan tertawa tegang. Ia berharap Nawal segera menyelesaikan basa-basi mereka dan langsung menyampaikan apapun yang hendak dia sampaikan.
“Sinan…” akhirnya Nawal berkata.
This is it. Sinan tahu. Sinan seharusnya sudah tahu bahkan sebelum Nawal membuka mulut untuk mengucapkan kata-kata yang akan menentukan hidupnya.
“Aku tidak tahu apakah aku mengatakan ini di waktu yang tepat. Bagaimana pun sudah dua belas tahun, dan tentu banyak hal yang sudah berubah dalam hidupmu. Tapi aku tetap berkewajiban untuk memberitahumu.”
Bahkan dengan upaya terbaiknya sekalipun Sinan tetap tidak bisa menghindarkan pikiran gelap tentang Ragib Duzan.
“Sinan, jika sekarang kamu sudah menikah dan punya keluarga, itu adalah kabar yang sangat baik. Aku akan sangat senang mendengarnya. Dan jika tidak…maka sekarang aku memintamu untuk melanjutkan hidupmu.”