Menuju Titik Nol

Chibi Chan
Chapter #25

Di Balik Tirai

Ruang Perawatan Dahlia, Kamar Nomor Tiga, tujuh belas hari kemudian.

  Tirai pemisah antar pasien bermotif monokrom itu tersingkap sedikit, lalu sosok Ibu muncul dari baliknya. Sinan tak bersuara, begitu pun Ibu. Kedua ibu dan anak itu hanya saling pandang dalam keheningan yang canggung. Tapi tak lama, Ibu mendekat perlahan lalu meletakkan totebag berisi buah-buahan di atas meja di samping ranjang pasien. Ibu lalu merogohkan tangan ke dalam totebag dan mengeluarkan sebuah apel, disusul buah jeruk, dan sebuah mika tembus pandang berisi nanas yang sudah dipotong-potong. 

  Ibu memilih jeruk yang tampak menggiurkan dengan warna kuning segar lalu mulai mengupasnya. Ia sebenanya tidak yakin Sinan akan memakan jeruk itu. Sepanjang yang Ibu ingat, Sinan tidak begitu menyukai buah jeruk. Aroma kulit yang khas seketika menguar di udara, menenangkan penciuman Sinan yang sejak berhari-hari lalu disiksa oleh bau penderitaan yang menyebar di bangsal berpenghuni empat orang itu. Bau disinfektan. Bau tengik dari tempat penyimpanan makanan. Serta bau badan pasien.

  Sinan tahu, Ibu mengatakan sesuatu, namun ia enggan untuk menyimak. Pikirannya masih dipekati kemarahan akan perseteruan mereka beberapa waktu sebelumnya. Sambil menatap kantong infusnya menetes perlahan, ia menangkap suara-suara dari balik tirai. Suara percakapan bernada rendah. Bunyi deru kipas angin. Seseorang batuk dan mengeluarkan dahak. Suara erangan kesakitan ditingkahi omelan perawat. Jelas suara-suara itu bukan berasal dari kepalanya. Ia lega sekaligus ngeri. Sinan memejamkan mata, sekuat tenaga menahan gelegak rasa mual yang mengaduk-aduk perutnya.

  “Jadi...sejak kapan kamu seperti ini?” Ibu berkata dengan suara rendah.

  Pertanyaan itu seketika memotong arus pikiran Sinan. Gadis itu membuka mata dan mendapati sang ibu menatapnya. Menatap perban di lehernya. Sinan mengikuti arah pandangan Ibu, ia mengangkat tangan dan meraba permukaan perban yang melintang sepanjang beberapa senti di lehernya. 

  “Ibu bicara sama dokter beberapa hari lalu, soal luka-luka di badan kamu...” Ibu tak sampai hati melanjutkan. Pikirannya kembali pada momen ketika ia berbicara dengan dokter tempo hari. Menurut dokter ada sesuatu yang jauh lebih serius dibandingkan luka di leher Sinan. Sesuatu yang sudah tertoreh sejak bertahun-tahun.

  “Bekasnya ada hampir di sekujur tubuh. Ada yang sudah lama, beberapa masih sangat baru. Sepertinya baru dibuat beberapa hari lalu.” Dokter pria itu berkata dengan air muka yang menyiratkan keprihatinan mendalam. “Sepertinya anak ibu menderita gangguan psikologi serius. Mesti segera ditangani.”

  Getir menebal dalam hati Sinan. Ingatan tentang momen tragis yang membuatnya berakhir di bangsal itu, seketika mengemuka. Dia tak tahu apakah dirinya harus merasa lega atau kecewa dengan kenyataan bahwa dia berhasil selamat dari kematian. Sayatan yang dia buat jelas mengakibatkan luka fatal, Sinan yakin ketika melihat genangan darahnya di lantai. Bahkan dengan upayanya yang paling maksimal, tindakan itu tidak juga membunuhnya.

  Tidak masalah, akan selalu ada kesempatan untuk melakukannya lagi. Kamu hanya butuh tekad yang kuat. Satu suara persuasif bangkit dari pelosok yang tak terduga.  

  “Sembilan...mungkin sepuluh.” Jawab Sinan enggan. Aku masih seumuran Nina waktu itu. Rasa nyeri yang tajam kembali mendera tenggorokannya. Ia haus dan ingin sekali minum. Tangan gadis itu lalu menjangkau buah jeruk yang sudah dipisahkan Ibu dari kantung sari buahnya. Ia mencecapnya sedikit untuk memastikan rasanya. “Manis.” Ujar Sinan.

  Ibu menatap anak gadisnya itu, perasaannya bercampur antara lega dan heran. 

  “Dokter bilang akan merujuk kamu ke dokter ahli jiwa supaya bisa menjalani beberapa tes kejiwaan.”

  “Nggak usah, bu.” Gadis itu menukas. “aku sudah melakukan konsultasi waktu tinggal di Amerika. Aku tahu diagnosanya. Aku juga menjalani terapi selama di sana.”

  Borderline Personality Disorder, dengan kecenderungan melukai diri sendiri hingga bisa memicu penderitanya untuk melakukan tindakan bunuh diri. Itu hasil yang mereka simpulkan tentang kondisi yang dialami Mimar Sinan. Setelah mejalani lebih dari selusin tes kepribadian dan belasan konsultasi dengan empat psikiater berbeda. 

  “Apakah parah?” hati-hati sekali Ibu menggulirkan pertanyaan itu.

  Sinan menatap getir wanita yang telah melahirkannya itu, lalu melemparkannya ke arah mana saja. Ya, lebih dari yang mungkin Ibu pikirkan. Penyakit ini menyerang pikianku. Menggerogoti jiwaku, menuntunku hingga ke batas paling gelap yang tidak pernah dibayangkan oleh siapapun. Begitu inginnya Sinan menyuarakan kata-kata itu, namun ia menahan diri dan akhirnya berkata, “Aku diberitahu kalau ada harapan untuk membaik.”

  Ekspresi Ibu tampak penuh harap. “Nan...ibu yang salah. Tolong kamu maafkan ibu...” Lirih suaranya. Tangan ibu terangkat untuk menjangkau tangan Sinan. Gadis itu membiarkan saja ketika kemudian Ibu menggenggam tangan Sinan dan meletakkannya di wajah. “Maafkan Ibu, Nan.” Kata-kata Ibu kini bercampur tangis. Begitu banyak yang ingin ia katakan tentang betapa besar rasa bersalahnya karena telah mengabaikan Sinan selama ini. Ia menyesal telah membiarkan Sinan berjalan seorang diri menuju jurang kehancuran, lebih dari apapun, Ibu berharap ada jalan baginya untuk memperbaiki apapun yang bisa diperbaiki. Tapi semua kata-kata itu teredam dalam isakan.

  Untuk beberapa saat gadis itu terdiam, kemudian berkata, “Bu, aku mau nanasnya.”

            *****

Lihat selengkapnya