Menuju Titik Nol

Chibi Chan
Chapter #26

Sowing the Seed: An Epilogue

West Colfax, Denver, CO. Awal Mei 2024

Sorcery?” Sinan berujar. Gadis mungil berwajah oriental itu sedang sibuk memeriksa inventaris di komputer kasir ketika Lockon menghampirinya dan mengangsurkan sebuah notebook. 

  Buku catatan itu diberi judul Lockon’s Miracle Book of Sorcery and Magic Stains oleh pemiliknya. 

  “Apa yang kamu tulis di sini?” Sinan penasaran. 

  “Hanya formula yang kubuat untuk mencampur bahan untuk stain color, siapa tahu aku absen jadi Shawn atau Brody bisa menggunakannya.”

  “Why sorcery?” kata Sinan lagi sambil membolak-balik lembar catatan itu setengah perhatian. Pandangannya tertumpu pada sederet kode unik dalam sistem pewarnaan yang selalu digunakan oleh Lockon dan rekan kerjanya yang lain di Sherwin Williams yang bertugas mencampurkan pigmen warna pada cat dan furnis. 

  “Karena teknik mencampurnya benar-benar sulit. Tidak seperti pigmented color, yang satu ini butuh skill khusus, seperti penyihir yang membuat ramuan sihir, you know what I’m saying? Aku melakukan banyak uji coba untuk mendapatkan komposisi yang pas supaya hasil aplikasinya sempurna.”

  “Hmmm, got it. That’s cleaver, Lockon.” 

  “Yup.” Lelaki jangkung berparas khas Italia itu tersenyum seperti seorang ayah yang menerima pujian atas kecemerlangan putranya.

  Lockon lalu meminta Sinan menyimpan buku catata itu di laci inventaris agar lebih mudah ditemukan. 

Sebelum Lockon membalikkan badan, Sinan gegas menahan lelaki itu dengan berkata, “Menururtmu apakah poke bowl ide yang bagus?”

  “Untuk makan malam?”

  Sinan mengangguk.

  “Ya, poke bowl oke.”

  “Aku kepikiran untuk mencoba sesuatu.” Sinan memberitahu.

  “Dan apa itu?”

  Sesaat gadis itu menggigit pelan tepi bibirnya, ragu. “Aku memikirkan sebuah resep modifikasi. Aku ingin membuat poke bowl dengan ayam karaage dan sup jamur, what do you think?”

  “Wah, I’ve never heard that before. Sup jamur di poke bowl, sounds great. Kita harus mencobanya.” Lockon berbinar.

  Sinan mengangguk dengan antusias. 

  “Apa kita perlu berbelanja untuk bahan-bahannya?”

  “Hmmm…sepertinya tidak perlu. We have everything we need in the fridge.”

Lihat selengkapnya