Rambut panjang berkepang dua dengan pita merah tua sebagai ikatan kuat agar kepangan rambut tetap terikat rapi.
Seragam putih begitu rapi di masukan kedalam rok abu-abu dengan sepatu kets hitam mengajak berjalan susuri lorong jalan masih tidak kelihatan ujungnya.
Terlihat bagian kiri hanya hamparan halaman kecil sudah berbeton kelihatan barisan kelas semua pintunya masih terbuka lebar, mungkin bakalan menyambut kedatangan siwas/i SMA Setia Kasih. Begitu juga disamping sisi kanannya Bulan, pintu-pintu kelas masih terbuka lebar.
Belum banyak murid yang datang, setiap kelas masih terasa kosong kursi belum ada murid yang menduduki.
Bangunan gedung Sekolah SMA Setia Kasih, semua dominan dengan cat warna grey terang, dengan kombinasi warna coklat terang mewarnai semua kusen daun pintu serta daun jendelanya.
Sangat asri dan rimbun tampak landscape taman sekolah banyak di tumbuhi pepohonan hijau, juga banyak aneka macam bunga penuh warna terhias semakin membuat asri dan rimbun sekitar taman sekolah.
Tersenyum wajah Bulan sesaat memandangi taman sekolah yang tidak jauh hanya bersebrangan dengan kelas 12 B.
Tapi lagi-lagi tangan kanan jahilnya mulai memetik sekuntum bunga warna merah muda. Mungkin hasratnya ingin sekali mengunyah bunga itu.
Tersenyum terasa lejat penuh kenikmatan saat gigi mengunyah dengan beralas lidah makin merasakan sentuhan sensasi berbeda saat bunga makin terdorong masuk kedalam liang kerongkongan.
"Bulan!" baru saja tangan kanannya akan memetik lagi bunga yang lainnya tidak jadi.
Sudah berdiri Lia, welas 12 B, wajahnya masam sambil melirik kearah taman seakan sedih karena hampir setiap hari bunga-bunga yang tumbuh seperti hilang terasa terculik oleh hasrat anehnya Bulan.
"Sudah berapa kali Ibu kasih tahu kamu! Jangan petik bunga-bunga itu! Aneh deh kamu!" sontak jeweran tangan kiri Lia menarik paksa jalan Bulan menahan sakit.
"Bu, sakit Bu!" merontah sakit tangan Bulan sambil melatakan tas gembloknya keatas meja.
"Iiiih! Kamu aneh deh!" terduduk Bulan setelah jeweran kuping terlepas dari tangan kirinya gurunya itu makin bingung lihat tingkah Bulan.
"Kamu berbeda dengan murid lainnya, Bulan! Lihat ini! Hampir habis kapur-kapur ini kamu makan!" sambil tunjukan kotak kapur yang tersisa hanya berapa biji saja, itu juga sudah pada patah tidak utuh.
"Sini kamu! Bersihkan papan tulis itu!" beranjak bangun Bulan sambil melirik kotak kapur diatas meja.
Kadang tangan kiri, kadang kanan terus menghapus blackboard masih tersisa bekas tulisan pelajaran kemarin. Tapi potongan kapur tulis makin memancing hasrat Bulan ingin sekali menggigitnya, sontak Lia tahu lirikan nakal mata Bulan kembali berpura-pura tangan kanannya menghapus blackboard.
"Pasti kamu mau makan kapur ini lagi'kan?!" ketus mulut Lia, lihat saja mata terbalut kaca mata dengan lensa tebal sekali.
"Pasti loe belum sarapan pagi'kan, Lan?" sindiran Lusy.