Menunggu Bulan *Novel*

Herman Siem
Chapter #4

Kemarahan & Cinta

"Pak?" pintu terbuka pelan, melongok masuk wajah Anggrek kedalam masuk tidak jadi saat telunjuk tangan kanannya meminta diam menempel di bibir.

Pelan-pelan Anggrek, sektertarisnya masuk kedalam mungkin dirinya tidak akan masuk bila ada masalah sedang urgent akan segera di bicarakan dengan Roky, pemilik PT. Abadi Pandai.

"Baik, baik. Saya akan usaha'kan dalam berapa hari ini, Pak." hanya berdiri didepan meja kerja, Anggrek hanya diam perhatikan Rocky sedang menjawab sambungan telpon dari pihak bank yang terus menagih janjinya.

Kelihatan besar ruangan kerjanya Roky, dominan dengan warna putih hampir mewarnai ruangan kerjanya. Sopa panjang dan kecil warna coklat berhadapan dengan meja kecil untuk menerima tamu tertata rapi berhadapan dengan meja kerja.

Terpampang megah berbahan arkrilik warna biru terang PT. Abadi Pandai dengan berlogo lembaran buku dan pena, jelas terpampang pada dinding tembok belakangi meja kerja.

Belasan tahun Roky mengelola bisnis stationery dari kecil sampai besar. Dan kini jadi berkembang pesat dengan kepercayaan pinjaman uang dari bank untuk perputaran roda bisnisnya.

Tapi seiring berjalannya waktu, banyak tagihan macet dan tentu membuat sulitnya melunasi tagihan supplier serta membayar tagihan pada pihak bank.

Terasa kesal dan sesak dasi biru yang menyekek lehernya sempat di kendorkan tangan kirinya dan tangan kanannya masih menempelkan ponsel pada kuping kanan.

"Pasti, pasti. Saya akan membayarnya," wajah kecut bercampur masam makin memancing hasratnya Roky buat marah.

"Hahhhh!" kesal terucap tangan kanannya menscrol layar ponsel.

Masih berdiri menunggu berapa saat Anggrek dengan setelah seragam kantor berwarna coklat tua, ada logo lembaran buku dan pena pada atas dada kanannya.

"Pak?" mungkin urgent dirinya harus mengatakan berani menyela pada Roky masih terduduk tetap melihat map biru sudah tergeletak di hadapannya.

Tangan kiri Anggrek lalu menarik sandaran kursi, lalu terduduk berhadapan Roky makin menahan rasa amarahnya.

"Bisa tidak kasih tahu sama departement kolektor untuk segera menagih tagihan macet?!" baru saja Anggrek akan bicara terhenti.

"Saya sudah remeinder, Pak. Tapi nyatanya customer kita, mereka mengulur waktu pembayaran. Karena keadaan sekarang ini, daya beli berkurang. Mereka tidak save uang untuk membayar tagihan kita," jawab Anggrek wajahnya masih terus disambangi kebingungan sejak dari tadi.

Lihat selengkapnya