"Dua ginjal milik Ranti sudah tidak berfungsi segimana fungsi ginjal. Banyak racun dari serapan makan dan minum hampir tidak bisa menyaring dan membuang limbah. Seperti racun, garam berlebih dan urea hanya mengendap dalam ginjal tidak berfungsi sebagimana mestinya," papar Sultan, Dokter muda tampan perhatikan raut wajah sedih dan gelisahnya Darko dan Maya.
Darko dan Maya, dua orang tua yang ingin sekali Ranti, anaknya bisa segera sembuh. Mungkin mereka berdua sudah kemana-mana, bahkan mereka sudah merujuk Ranti sampai kerumah sakit luar negeri.
Tapi tetap saja, daya upaya mereka sebagai orang tua ingin sekali bisa mengembalikan kenangan manis saat anaknya masih sehat semua itu tidaklah mudah.
Tatapan sendu pucat raut wajah Ranti hanya bisa berbaring saja diatas bangsal. Padahal seusianya sangat ingin sekali bersama teman-temannya bermain setelah pulang sekolah, nonton dan pergi bersama.
Bagaimana mau bisa bebas pergi bersama dengan temannya, untuk melebur kepenatan. Ranti kini hanya pasrah, dirinya di vonis gagal gijal harus segera melalukan transpalasi gijal, bila tidak nyawanya terancam.
Dua ginjalnya tidak berfungsi, selang berujung jarum kecil tajam masih menghunus betah bersarang dalam nadi pergelangan tangan kirinya. Berapa macam dan warna cairan infusan masih tergantung pada tiang besi, dimana selangnya menjalar cairan masuk kedalam relung urat seluruh tubuh Ranti.
Ratapan sedih makin berkuasa tangisan mengetuk hati kecil Maya, seorang Ibu yang pernah bersusah payah mengandung dan sampai melahirkan Ranti. Ibu mana yang tidak sedih teriris hatinya, hanya melihat anaknya terbaring sakit kapan waktu adzal menjemputnya.
"Dokter. Apa tidak ada jalan lain, selain transpalasi ginjal?" putus asa tapi yakin pertanyaan Darko pada Sultan berdiri berhadapan dengan sepasang orang tuanya Ranti.
"Mencari pendonor ginjal tidaklah mudah. Namun obat dan cuci darah teratur, itu salah satu jalan buat menyembuhkan. Ya, walau tidak 100%. Tapi saya tetap akan membantu kesembuhan Ranti. Hampir setiap hari saya menghubungi rekan saya, sesama dokter. Bila mereka mendapat'kan info ada yang ingin mendonor'kan ginjal bisa menghubungi saya," jawaban Sultan masih bikin berat hati Maya.
"Tolong sembuh'kan Ranti, Dokter. Berapapun biayanya akan saya bayar!" mungkin emosi saja Maya ssdikit ketus seraya menyombongkan diri sebagai orang berada, dengan bisa membayar berapapun saja asal anaknya bisa selamat.
"Saat ini Ranti hanya butuh support dan doa saja. Mungkin itu obat yang paling ampuh buat Ranti. Masalah biaya, saya sebagai seorang Dokter yang tersumpah tidak terlalu memikir'kan itu. Terpenting bagi saya, bagaiman saya dapat menolong dan menyelamat'kan pasien saya," husapan halus lembut telapak tangan Sultan berapa kali mengusap rambutnya Ranti tersenyum.