"Ibu tidak mungkin bisa wujud'kan keinginan kamu, Roky," padahal sejak tadi Roky menunggu jawaban dari Suwanti, Ibu mertuanya baru saja keluar bawa baki nampan berisi secangkit teh manis hangat.
"Saya mohon, Bu!" beranjak bangun Roky seraya memohon pada Suwanti meletakan cangkir teh diatas meja.
Suwanti lalu duduk, lirikan matanya tersenyum perhatikan foto Bulan saat kecil tergendong Saras, ada pada barisan meja pajangan tidak jauh dari duduknya.
"Berat terasa hati Ibu, bila menjual perkebunan tebu itu. Ya, walau itu hanya sebagian saja. Kamu'kan tahu Roky. Perkebunan tebu itu peninggalan Ayahnya Saras. Rasa berat sekali kalau Ibu tetap memaksakan menjualnya untuk membantu kamu," kelihatan berat raut wajah Suwanti dengan bujukan Roky makin saja wajah bingung.
"Tapi Bu? Hanya dengan menjual perkebunan tebu itu bisa menyelamat'kan perusahaan saya!" intonasinya mulai tinggi keinginan Roky.
"Apa tidak ada jalan lain, selain kamu paksa'kan Ibu menjual perkebuan tebu itu?" berusaha berkilah menolak Suwanti.
"Hanya menjual perkebunan tebu itu, Bu bisa menyelamat'kan perusahaan saya!" makin kesal Roky menjawab.
"Bagaimana keadaan Bulan?" makin bikin Roky kesal, malahan Suwanti mengalihkan pembicaraan.
"Bu!" makin kesal dijawab Roky.
"Kamu harus sabar, Roky. Kan'semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Terus terang Ibu masih terasa berat hati, jika kamu paksa Ibu menjual perkebunan tebu itu," tandas Suwanti berdiri didepan pintu.
"Ibu sama saja seperti Saras! Itu dan itu saja jawabannya. Saya harus bersabarlah! Harus begini! Begitu!" sahut kesal Roky mengambil kunci mobil dari atas meja.
Sampai dingin yang tadi teh manis hangat dan sampai tidak diminum juga oleh Roky terlanjur kesal.
"Sudah saya pulang saja! Percuma bicara sama, Ibu!" tersenggol Suwanti saat Roky memaksa keluar dari dalam rumah.
Langit malam itu terlihat cerah dengan sinar cahaya rembulan malam serta jutaan taburan bintang bermain diatas tingginya batang tebu.