Brown sontak terlepas dari dekapan Bulan, langkah lari cepat mengejar agar tidak keluar halaman karena sudah sangat malam.
Dari balik jendela terkejut Saras, saat sorot cahaya lampu mobil minibus silver dari depan terlihat masuki halaman rumah.
"Brown! Brown ..." sambil mengendap Bulan mencari dua tangannya membelah semak tanaman.
"Bulan? Bisa marah-marah Roky kalau dia sampai melihat Bulan belum tidur," ketakutan Saras cepat beranjak keluar dari dalam ruangan tengah, sampai lupa merapihkan lantai dan sopa masih berantakan.
Mobil minibus silver sudah berhenti diatas carpot parkiran mobil. Sudah berdiri Saras penglihatannya perhatikan sekitar halaman rumah. Hanya maju dan mundur papan ayunan tidak lagi diduduki Bulan.
"Yah, kok pulangnya malam sekali?" sapa Saras sambil mengambil tas kerja dari tangan kirinya Roky tidak menjawabnya.
"Dimana Bulan?" guman bingung dalam hati Saras perhatikan lagi halaman rumah hanya sepi berselimut gelap samar cahaya penerangan.
"Bulan ...!" sontak Saras berbalik dan cepat masuk kedalam rumah.
"Maaf, Yah. Tadi Bunda belum sempat rapih'kan," seraya mengalihkan kemarahan Roky, Saras melempar tas kerja keatas meja.
"Bulan!" pintu kamar didorong kesal dua tangan Roky. Hanya kosong didalam, tidak ada Bulan.
"Bulan ...! Bulan dimana, Bun!?" terduduk kesal Roky dikursi, setelah berteriak panggil tidak ada. Dasi makin menyekek leher lalu di tarik dan terlepas dari leher.
"Ayah mau Bunda buat'kan teh hangat atau Bunda masakin air hangat buat mandi?" masih belum beres Saras merapihkan lantai, masih banyak ceceean potongan kain dan sobekan kertas.
"Bulan mana, Bunda?!"
"Brak" sahut kesal Roky sambil tangan kanannya gebrak meja sontak kaget juga Saras.
"Yah, jangan marah-marah dong. Ini sudah tengah malam. Malu didengar tetangga," berusaha membujuk Roky, Saras masih bingung padahal hati sebentar-sebentar melirik keluar jendela.
"Ayah lebih malu dengan keanehan Bulan! Dan Ayah lebih malu lagi! Kalau sampai perusahan dan rumah ini sampai disita sama bank!" ingin gebrak meja lagi tidak jadi. Roky masih kesal lalu beranjak bangun.
"Ayah, sabar. Sabar dong, Yah." berusaha tenangkan Roky, Saras duduk berhadapan.
"Gimana Ayah bisa sabar, Bun! Bunda cuman bisa bilang sabar! Sabar! Semua masalah pasti ada jalan keluarnya! Jawaban Bunda sama seperti Ibu, Bunda! Ibu tidak mau membantu Ayah!" terduduk lagi Roky makin jengkel.