Menunggu Bulan *Novel*

Herman Siem
Chapter #8

Perpisahan Pasti Menunggu Bulan

"Pagi Delon," sapa hangat halus terucap penuh sentuhan menggoda dari godaan bibir Lusy mendekati Delon.

Tapi pandangannya hanya perhatikan kursi kosong yang ada disamping kiri barisan kedua dari depan.

"Loe pasti lagi menunggu Bulan?" tarik kursi dari tangan kirinya lalu Lusy duduk disamping meja dari tadi wajahnya terus menatap bingung wajah Delon.

Murid-murid sudah hampir semuanya masuk dan terduduk rapi, siap menerima pembelajaran hari ini. Seperti biasanya pasti Lia, welas 12 B yang merangkap juga guru mapel Biologi.

"Loe kenapa si, Del? Kok loe diam aja?" berdiri Susi bingung perhatikan Delon.

"Pasti loe lagi menunggu Bulan'kan?" sambung Anjas sudah terduduk diatas meja menghalangi pandangannya Delon.

"Udeh deh, Lon. Loe jangan lagi menunggu Bulan. Loe tunggu gua aja," colekan hangat seraya membelai tangannya Lusy sebentar mengelus wajah tampannya Delon.

"Pagi ..." masuk Lia masuk sambil mendekap buku pelajaran.

"Pagi Bu Guru ..." balik sahut semua murid berdiri menunggu Lia terduduk melirik kursi kosong.

"Bulan mana?" maju Lia berdiri depan meja.

"Udeh deh Bu. Lagian ngapain juga Ibu menunggu Bulan. Anak aneh itu, mungkin ngak masuk. Atau lagi makan, makanan yang aneh," sahut Lusy sambil melempar senyuman pada Delon masih ada kecemasan pada wajahnya.

"Sudah! Sudah! Kalian buka tugas kalian yang Ibu tugas'kan minggu kemarin,"

"Pagi Bu," sudah berdiri Bulan depan pintu, sempat dilirik Lia menghampiri.

Semua murid melirik pada Bulan, cengar-cengir Lusy, Susi dan Anjas saat Lia menarik bahu kanan Bulan ikut masuk kedalam.

Wajah banyak menempel bercak darah, bulu ayam juga masih menempel pada bibir dan rambutnya Bulan.

"Kamu kenapa, Bulan?" makin bingung Lia.

Lihat selengkapnya