Menunggu Bulan *Novel*

Herman Siem
Chapter #10

Pasti Menunggu Bulan

Brown seakan tahu bila sebentar lagi dirinya akan segera di tinggalkan Bulan yang sangat sayang sekali padanya. Sampai Brown terduduk sendiri diatas papan ayunan, hanya diam tidak bergerak maju mundur.

Hanya riang dedaunan saat terhempas semilir angin kecil seraya membisikan sepasang kuping kecil, bila benar Bulan akan pergi meninggalkan Brown.

Cahaya sinar rembulan malam makin berpadu dengan tebaran jutaan kerlap-kerlip bintang sempat dua mata Brown menatapnya.

Masih belum ada tanda-tanda kepulangan Bulan, karena sorot lampu mobil minibus putih, yang sering dikendarai Saras belum terlihat.

Hanya terparkir mobil minibus silver yang biasanya sehar-hari dikendarai Roky. Mungkin juga sebentar lagi mobil itu tidak akan pernah di pakainya lagi karena akan dista oleh bank.

Dari belakang jendela, dua pasang mata sinis sejak dari tadi menatapnya seakan terpanggil kemarahannya untuk berbuat sesuatu yang menyakitkan Brown.

Hanya sepi di ruangan tamu, hanya sendiri Roky sejak dari tadi hatinya makin terasa kesal karena sejak dari tadi ponselnya tergeletak diatas meja berdering saja.

"Kring ... Kring ..." hanya di biarkan saja ponsel berdering diatas meja.

"Meong ... Meong ..." suara seraya terdengar dalam hatinya Brown memanggil Bulan kenapa lama sekali pulangnya.

Masih terduduk Brown diatas papan ayunan hanya sendiri sedikit bergerak ayunan ketika hempasan angin datang menggerakan papan ayunan.

Mungkin terlalu lama Brown menunggu kepulangan Bulan, sampai membuatnya bosan juga. Brown melompat turun dari papan ayunan dan masuk kedalam, sejak dari tadi pintu memang sudah terbuka.

"Meong ... Meong ..." terdengar suara Brown dari dalam ruangan tengah.

Sorot lampu cahaya mobil minibus putih, sehari-harinya jadi mobil pribadi Saras sudah terlihat masuki halaman rumah dan berhenti disamping mobil minibus silver.

"Bulan mana, Bun?" pertanyaan sinis terlontar dari mulutnya Roky, baru saja Saras turun akan tutup pintu mobil tidak jadi.

"Kenapa si, Yah? Benci sekali sama Bulan?! Ayah mau paksa'kan Bulan dirumah Ibu atau tidak! tetap akan sama saja, Yah! Tidak akan menyelesai'kan masalah yang ada!" ketus jawaban Saras.

"Brug" sambil tutup pintu mobil.

"Bunda memang tidak bisa hamil! Tapi Bunda bisa punya anak. Anak Bunda, yaitu Bulan! Terserah Ayah mau sayang atau mau mengakui Bulan sebagai anak Ayah atau tidak! Bunda akan tetap sayang! Dan Bunda akan tetap menunggu Bulan!" sinis ketus raut wajah Saras beranjak masuk kedalam.

Satu sorot lampu kecil motor vespa mulai kelihatan masuki halaman rumah. Tidak jadi masuk Roky kedalam, sontak tangan kanannya menarik tuurn Bulan.

Lihat selengkapnya