"Kukuruyukk ..." suara ayam penjantan terdengar membangunkan segera relung sukma nadi yang saat malam tadi terlelap dalam selimut dinginnya malam.
Hamparan perkebunan tebu seraya bergairah menggeliat ikut terjaga terbangun dengan suara panggilan ayam pejantan.
Jutaan akar pohon tebu, seakan mulai mengular sontak membangunkan setiap batang menjulang panjang dan jutaan lembar daun menjuntai panjang.
Lihat betapa bahagianya lembaran daun panjang pohon tebu, seraya mulai tersenyum menyambut datangnya pagi yang cerah sekali. Masih berselimut bulit kecil kristal pembiasan kabut malam, masih menyatu pada setiap relung daun panjang tebu hijau.
Langit mulai cerah, terasa masih bertajuk hawa dingin masih menyengat sanaubari hari setiap insan yang bisa menghela panjang napasnya.
Ayam pejantan masih bertengger dengan dua kakinya berkuku panjang tajam masih mencengkram dahan batang pohon berdiri tegak depan rumahnya Suwanti.
Sejak dari tadi pintunya sudah terbuka, masih terpakir mobil minibus silver artinya Roky masih berada didalam.
"Ibu tidak apa-apa kalau Bulan, kamu mau di titip'kan disini," lirikan Suwanti melihat kearah jendela, sinar matahari pagi mulai terasa menyela hawa pagi yang sejuknya mulai beranjak pergi.
Terduduk diam, wajahnya tidak sedikitpun mau menoleh pada Roky padahal sejak dari tadi Bulan duduk berhadapan dengan Ayahnya. Roky beranjak bangun ingin cepat bergegas kembali pulang ke Jakarta.
"Bulan, Ayah pulang. Jangan lupa kamu minum obatnya," hanya tersenyum Suwanti sduah berjalan duluan kedepan mmelirik mobil silver masih terselimut bulir-bulir sisa kabut malam.
Bulan hanya terduduk, rasanya malas buat mengantar Ayahnya pulang, mungkin pikirannya sekarang ini masih kesal dan jengkel saja dengan Roky.
Mungkin juga dalam pikrian hanya masa bodoh, beranjak bangun Bulan tangan kirinya tidak lupa mengambil kantong plastik obat dari atas meja. Tas koper berisi berapa setel baju hanya di biarkan saja terduduk diatas kursi kayu.
"Saya titip Bulan, Bu." kata Roky kelihatan masih dingin tubuhnya masih berselimut jaket hitam.
Lagi-lagi tatapan sinis mata Roky mengarah pada hamparan luas menghijau perkebunan tebu, yang bersampingan dengan rumah tinggalnya Suwanti.
Hatinya Roky masih berharap bila sebagian atau seperempat saja perkebunan tebu itu jadi miliknya dan bisa segera di jual untuk menyelesaikan masalah.
"Perkebunan tebu itu akan selamanya terasa manis. Dan akan tetap ada menemani hari tua Ibu," langsung kecut masam raut wajahnya Roky, harapannya semakin pupus jauh terhempas angin kencang.
Bila dirinya tidakkan merasakan manisnya uang perkebunan tebu yang kekeh mertuanya Roky, Suwanti tidak akan pernah menjual perkebunan tebu miliknya.