"Aduh!" pelan-pelan sepeda di dorongnya oleh kedua tangan Sultan sedikit merasakan sakit bagian belakang punggungnya.
"Aduh! Maaf. Maaf!" tapi cuman diam saja Bulan tidak lantas mengangkat sepeda masih menindih badannya Sultan.
Begitu juga Sultan kenapa sontak terdiam saja, dua tangan juga ikut terdiam saja saat dua matanya hanya menatap Bulan.
Tersenyum Bulan seakan makin terbuai sumringah, seakan semakin kerasan dirinya untuk ingin tinggal bersama Neneknya. Padahal baru saja datang, kelihatan bangat kantong matanya seperti mata panda yang kurang tidur dan banyak meneteskan kesedihan pada dua mata lentiknya.
"Auw!" terasa sakit atau sengaja Sultan berteriak cuman cari perhatian Bulan agar terbangun dua matanya tidak lantas menatap raut wajah tampannya Sultan.
Lagi-lagi tersenyum saja Bulan menatap wajah Sultan, ketika dua tangannya sudah mengangkat sepeda kelihatan roda ban depannya rada penyok tapi masih bisa berjalan.
"Rasanya aku pernah melihat kamu?" sontak bibir Bulan berucap malu.
"Iya? Saya juga pernah melihat kamu deh?" kini giliran bibir tipis beratap kumis tipisnya Sultan berbalik berucap sembari menebar senyum sumringah pada Bulan. Pikiran Sultan cuman keingatan pita merah mengikat dua kepangan rambut.
"Kamu'kan?" barengan saling tunjuk telujuk tangan sopan mereka berdua saling menunjuk wajah.
"Kamu, kok ada disini?" barengan lagi dan sama-sama kompak pertanyaan yang sama.
"Sudah. Kamu dulu yang bertanya padaku," mengalah Sultan malu-malu sampai lupa kalau dirinya sekarang ini pasti sedang ditunggu pasiennya.
"Aku baru saja datang. Lihat hamparan luas perkebunan tebu itu semuanya milik Nenekku," sahut Bulan bangga makin tersenyum lucu menahan tawa perhatikan seragam putih yang dipakai Sultan sedikit kotor.
"Bulan ..." teriak panggil Suwanti dari kejauhan memanggil Bulan melirik sudah berdiri Neneknya ditengah jalan terapit hamparan hijau perkebunan tebu.