Menunggu Bulan *Novel*

Herman Siem
Chapter #13

Senja Menunggu Bulan

Wajah sedih sendu berharap seraya menunggu anaknya, terasa berat tidak ingin beranjak bangunnya Saras dari duduk diatas papan ayunan. Hampir setengah hari ini dirinya hanya terduduk merasa makin termakan kerinduan ingin memeluk Bulan dan hanya bisa menunggu tanpa kepastian.

Tanpa terasa senja mulai datang, makin terasa menyelubung masuk dalam sukma relung bayangan dua mata. Binar mata makin berkaca, seraya ada bayangan Bulan masih teringiyang tidak akan beranjak pergi.

"Bulan, Bunda kangen kamu," sontak tetesan air mata makin deras seakan tidak kuat bendungan langit senjamakin menggoda indah, walau nun jauh dari pelupuk mata lentiknya seorang Ibu yang merindukan anak anehnya.

Beranjak bangun Saras dari papan ayunan sedikit bergerak, tapi cepat rantai sisi kirinya tergenggam kepalan tangan kiri terhenti ayunan bergerak.

"Bunda, akan selalu menunggu kamu, Bulan." makin sedih masih tidak lepas rantai ayunan sisi kiri tergenggam tangan kiri Ibu makin merindukan. Seakan rantai sisi kanan merasa terusik ingin juga digengam manja sentuhan halus tangan Saras.

Senja makin mengajak awan kelabu, menarik dua mata Saras makin tidak berkedip. Langit terasa sendu, walau awan kelabu makin menepi nyata perlahan menyingkir.

Kini dua tangan Saras tidak lagi pilih kasih, dua genggaman tangannya memeluk hangat rantai kembar papan ayunan. Pelan tergerak ayunan, terbayang lagi dari dua kelopak pelupuk mata tergambar jelas Bulan dan Brown duduk berdampingan diatas papan ayunan.

Lirikan senyuman Bulan menoleh kanan Saras makin tidak kuasa menahan sedih. "Meong ..." sekilas terdengar bisikan Brown namun makin bikin Saras tidak tahan sedihnya.

Dari balik jendela dalam ruangan tengah, berdiri sesaat Roky perhatikan Saras melepaskan rantai kembar papan ayunan di tinggalkan begitu saja dibawah langit senja.

Saras berlari masuk kedalam, mungkin dirinya makin tidak kuasa terus menahan rindunya pada Bulan. Walau dirinya berjanji akan tetap selalu menunggu Bulan.

"Brak" pintu tertutup kencang dalam kamar.

Roky sesaat terdiam hanya berdiri depan pintu kamar. Hatinya makin terasa berkecamuk bercampur tertahannya amarah. Sesengukan tangisan terdengar dari dalam kamar, makin tidak berani kepalan tangan Roky ingin mengetuk pintu kamar, seraya hanya ingin memanggil istrinya agar tidak bersedih.

"Bunda, maaf'kan Ayah." tidak tahu apa yang sedang bergejolak dalam hatinya Roky. Terkadang dia baik, terkadang dia marah-marah dan terkadang juga Roky merasa dirinya egois.

Memang Roky egois, hanya karena bisnisnya sedang diambang kebangkrutan sampai dirinya rela menggadaikan kasih sayangnya dengan membuang Bulan jauh dari pandangan dan pelukannya.

Terduduk sedih, seraya berselimut durja kesedihan. Raut wajah Roky makin terbawa ingatannya seraya mengajak mengingat Bulan. Lirikan senyum namun tertahan sedih keegoisan, matanya sesaat terhenti pada foto kecilnya Bulan digendong Saras ketika masih muda nan cantik.

"Jreng ... " petikan senar gitar tidak menghasilkan nada merdu lalu di letakan diatas meja bulat.

Lihat selengkapnya