Tidak berani menegur Suwanti, hanya berdiri saja ingin rasanya dirinya jadi penengah harapan hatinya Bulan. Makin kelihatan terasa bahagia sekali bersama Sultan.
Tatapan mata Bulan mengajak tersenyum Sultan, dirinya sampai lupa waktu pulang. Langit makin gelap, makin terasa sinar cahaya bulan mengajak canda pijaran jutaan bintang.
"Kalau aku tahu waktu itu kamu Dokter dirumah sakit itu. Aku mungkin hanya mau diperiksa kamu, Sultan." tersenyum malu Sultan sontak tidak jadi dirinya akan menyahut saat Suwanti terpaksa keluar.
"Bulan sudah malam. Mandi sana, lalu makan dan minum obatnya," hatinya Suwanti sebenarnya tidak enak hati, dirinya tidak mau mengusik kebahagian cucunya itu.
"Ahh, Nenek. Ini'kan belum malam-malam bangat, ya Sultan?" menolak halus seraya minta dibela Sultan hanya tersenyum saja.
"Sudah, sana kamu mandi dulu. Kasiham Dokter Sultan dari tadi momong kamu saja," ledek Suwanti tersemyum.
"Bulan, aku pulang dulu," sudah berdiri Sultan melirik Bulan tapi tidak mau beranjak pergi. Bikin bingung Suwanti berbalik lalu menarik tangan kanannya Bulan.
"Ingin rasanya hati ini berpaling. Tapi apakah aku yakin, Delon menungguku?" guman senyuman dalam hati Bulan sontak hentakan pelan tangan kirinya Suwanti.
"Sultan aku mandi dulu. Besok, kamu janji'kan mau ngajak aku jalan-jalan dan main-main lagi?" hanya anggukan wajah tampan Sultan saja seraya mengiyakan jawabannya.
Tersenyum Suwanti terasa ikut bahagia, Bulan cepat beranjak masuk kedalam rumah membawa senyuman yang tidak akan terlupakan.
"Nek?" ada yang ingin di tanyakan Sultan tapi tidak jadi.
"Dokter Sultan tidak pulang?" malahan balik tanya Suwanti perhatikan seragam putih yang dipakai Sultan.
Stetoskop lalu di lepaskan dari lehernya Sultan kemudian masukan kedalam tasnya sambil dua tangannya kembali mengikat tas hitam dengan jepitan besi boncengan.
"Maaf, Nek. Kalau boleh saya tahu. Bulan sakit apa? Barangkali saya bisa membantu, paling tidak mengobati atau menyupport Bulan agar lekas sembuh," hampir bingung Sultan pertanyaan tidak jawab Suwanti malahan masuk kedalam rumahnya.
Sesaat menunggu Sultan didepan rumah, pintu masih terbuka lebar tapi dirinya tahu etika dan tata sopan santun. Sultan hanya menunggu didepan pintu, cahaya samar tapi lumayan terang cahaya lampu tergantung diatas plapon atas depan rumah.
Tatapan mata tersenyum bangga, saat dua mata terajak rasa bangga dan bahagia dengan lukisan asli Sang Pencipta. Bulan bulat sempurna dengan cahaya sinarnya makin terang benerang. Jutaan pijaran mata kucing terus berkedip mengajak jutaan binatang lainnya agar tersenyum berkedip.