Menunggu Bulan *Novel*

Herman Siem
Chapter #15

Sabar Berbuah Mukjizat

Husapan hangat telapak tangan kanan Nenek Suwanti, raut wajahnya hanya menatap belakang punggung yang sejak dari tadi terus terhusap penuh dengan belaian kasih sayang. Ada rasa ingin menangis sedih, namun tertahan makin terasa lingkaran dua matanya mulai mengkerut makin menua.

Tidak akan terlepas bantal guling terbungkus sarung bantal hijau toska, dua kepangan rambut masih terikat pita merah tua beralas bantal sama warnanya dengan sprei tempat terbaringnya Bulan masih lelap tidurnya.

Setelan piyama merah muda sejak sedari malam masih membalut tubuhnya, seraya masih membungkus hangat tubuhnya Bulan mungkin sedang terbawa mimpi bersama Sultan.

Prihatin makin tergurat dari lubuk terdalam Suwanti, seraya hatinya banjir kesedihan dengan keadaan Bulan, walau bukan cucunya namun dirinya sesungguhnya sangat sayang sekali. Terbelih ketika Fajar, almarhum Kakeknya masih ada, dia juga begitu sayangnya sekali pada Bulan, hampir tidak ada batas ketulusan kasih sayangnya.

"Kenapa Roky tidak menyayangi Bulan?" guman makin sedih dalam hati makin terasa berat dua kantung mata tertahan berat sekali tetesan air mata.

Beranjak bangun Suwanti, sepagi itu dirinya akan segera berangkat keperkebunan tebu. Kebaya putih dengan lilitan kain coklat tua polos masih bertelanjang dua kakinya tanpa alas. Wajahnya makin menua, rambutnya saja makin banyak yang putih.

Tidak jadi langkahnya akan keluar dari dalam kamar, tatapan matanya tertujuh pada kantong plastik yang tergeletak diatas meja samping dipan. Mungkin masih teringat Suwanti dalam benaknya, dengan Sultan yang bersedih saat di perlihatkan obat-obatan itu.

"Apa ini, obat penenang untuk Bulan?" guman tidak percaya lalu di letakan kembali kantong plastik obat diatas meja.

"Apa ini yang selalu di risau'kan Saras dengan keanehan tingkahnya, Bulan?" menghela napasnya Suwanti sebentar melirik pada Bulan makin terlelap dalam tidurnya. Mungkin saja dia masih bermimpi indah bersama Sultan, yang senja kemarin di ajaknya boncengan sepeda dan bermain layang-layang di perkebunan tebu.

"Assalam' mualaikum ..." terdengar panjang tapi pelan terdengar suara yang sepertinya dikenal Suwanti.

"Waalaikum' salam ..." sahut Suwanti cepat bergegas keluar di biarkan saja pintu kamar terbuka.

"Saras?" mungkin lama juga Suwanti tidak bertemu dengan Saras, anaknya cepat memeluk erat.

Tapi tidak pada Roky hanya berdiri sinis wajahnya lalu terduduk dikursi, pandangannya menjorok kedalam melihat Bulan masih terlelap tidur.

Pelukan masih terasa hangat erat, mungkin saking rindu kangennya Saras masih tidak ingin melepaskannya pelukan Ibunya itu, yang telah melahirkan dan membesarkannya.

"Bulan?" terucap pelan dari bibir merona merah muda Saras ikut berbalik menyamping Suwanti seraya menunjukan pada anaknya itu didalam kamar, bila cucunya sedang tertidur lelap sekali.

Lihat selengkapnya