"Maaf, Dokter. Saya tadi emosi," mungkin karena desakan keadaan Ranti membuat Darko jadi selalu emosi dan marah dan tidak sabaran kapan Sultan akan segera mendapatkan pendonor ginjal.
Sultan hanya berdiri disamping sisi kanan pintu mobil, kilauan seragam putih Dokter makin terlihat silau. Lirikan curiga dua mata Sultan mengarah pada samping kiri mobil yang memang masih ada hamparan perkebunan tebu.
Memang bila di perhatikan posisi klinik kecil tempat Sultan praktek buat menolong warga sekitar, posisinya berada di tengah-tengah perkebunan tebu yang masih miliknya Suwanti, Neneknya Bulan.
"Saya mengerti dengan keadaan Ranti saat ini. Mungkin bersabar saja tidak akan bisa menenangkan hati orang tua yang saat ini sedang cemas. Saya berjanji akan segera mendapatkan donor ginjal buat Ranti. Saya hanya minta bersabar dan bantu doa saja," haru memang terpancing cemas sedih dua mata Sultan perhatikan Darko sudah duduk dibelakang kemudi setir mobil hitam suv terasa gagah besar sekali.
"Terima kasih, Dokter mau yakinkan saya. Saya berjanji Dokter, bila ada pendonor ginjal yang bisa mendonor'kan dua ginjalnya untuk Ranti. Saya akan bayar berapapun dia pinta," mungkin itu yang akan diperbuat Darko akan membayar berapapun uang hanya untuk membayar dua ginjal untuk Ranti.
"Orang itu mau membayar berapapun buat pendonor ginjal?" guman diam-diam mulutnya Bulan perhatikan mobil suv hitam berjalan meninggalkan Sultan berdiri diatas selasar berbeton semen wajahnya masih prihatin dengan Darko yang kini telah pergi dengan mobil suv hitamnya.
Mungkin sudah tidak ada pasien lagi, kelihatan klinik hanya sepi hening. "Klinik Sehat Bersama" bergerak tertiup angin papan nama klinik tergantung diatas dua penopang kayu disamping selasar beton semen.
Bangunan klinik tidak terlalu besar, tapi permanent terbuat dari beton dan rangka besi, jendelanya saja berkaca bertirai putih bersih dengan satu pintu berdaun pintu kayu jati. Dua tiang pilar kokoh menopang atap bangunan dengan semuanya warna bangunan putih. Terdiam sepi kursi memanjang tertata rapi untuk pasien yang menunggu giliran.
Baru saja langkah kakinya Sultan akan bergegas masuk kedalam klinik tidak jadi. Makin curiga dua matanya perhatikan ada sesuatu dibalik rerimbunan dedaunan tebu. Makin mendekati langkah Sultan, dua tangannya menyibak daun tebu sambil dua kakinya melangkah berjalan.
"Siapa disitu!" makin mendekati Sultan.
Makin jelas ada sesuatu dibalik rerimbunan dedunan tebu yang sengaja menutupi Bulan terduduk jongkok. Makin ketakutan dirinya ketahuan Sultan sampai wajahnya saja tertutupi dengan daun tebu di tariknya oleh kiri kanannya buat menutupi wajahnya.