Menunggu Bulan *Novel*

Herman Siem
Chapter #18

Menunggu Jawaban

"Maaf, Ibu tetap tidak bisa menbantu masalah kalian," tegas terucap dari bibir berwajah keriputnya Suwanti.

Tapi relung hati terdalam masih ada rasa tidak tega dengan keputusan jawaban dari Ibunya Saras itu.

Mungkin ada rasa kecewa yang makin melobangi ketidak yakinan Roky pada mertuanya itu. Bila sejak dari tadi dirinya lama menunggu jawaban sampai gelisah makin memguras otak dan benaknya.

Sontak rentetan ancaman kemurkaan Roky, makin terasa membayangi raut wajah Saras serasa dirinya makin takut dengan jawaban Ibunya itu yang tidak sesuai harapan.

"Bu?" beranjak bangun memohon Saras tapi terhenti mulutnya akan melanjutkan saat telapak tangan pasti Ibunya itu menahan dihadapan wajah Saras.

"Itu jawaban, Ibu! Ibu lebih jadi Ibu yang tega. Daripada menghapus kenangan manis Ayahmu, Saras." beranjak jalan Suwanti kedalam dapur.

Hati Saras makin terbenam terbayangi ketakutan angkara murkanya Roky, dirinya pasti tidak kuasa berani melihat raut wajah kekecewaan suaminya itu.

"Maaf'kan Bunda, Yah. Bunda sudah berusaha meminta tolong pada Ibu. Tapi, Ibu masih belum bisa meninggal'kan kenangan manisnya bersama Ayah. Ketika mereka berdua gimana sampai bisa memiliki perkebunan tebu itu," pelan-pelan Saras mendekati berdiri dihadapan Roky masih terduduk.

"Tapi seharusnya Ibu tahu gimana keadaan kita sekarang! Makin terdesak sekali! Kenapa Ibu sampai tega melihat kita? Dia hanya diam saja! Sejak dari tadi Ayah menunggu jawaban dengan sabar! Tapi! Tapi Ibu hanya menjawab tidak akan mau meninggalkan kenangan manis menjual perkebunan tebu terus!" kesal Roky beranjak bangun dari duduk.

Hanya diam terkulai lemas duduk dikursi kayu dalam dapur. Wajah Suwanti hanya melirik meja sudah tersaji sayur kangkung dan tempe goreng, makanan sederhana tapi menyehatkan.

"Ibu kamu benar-benar tega, Saras! Dia egois! Ibumu egois! Dia hanya mementingan kenangan manis bersama suaminya agar tidak munsah bila perkebunan tebu itu dijual! Hati Ibumu terbuat dari batu yang seakan batu itu, batu pualam yang harganya mahal dan pasti akan jadi kenangam manis bila di berikan dengan pasangan hidupnya!" makin terdengar sedih Suwanti masih terduduk, dua kupingnya tidak lagi di manjakan dengan sentuhan kata-kata halus lagi.

"Aku benci dengan Ibu! Dia egois!" sontak dua tangan Roky mendorong Saras terjatuh duduk.

"Bunda'kan tahu gimana keadaan Ayah sekarang. Begitu terdesak sekali, bila dalam waktu berapa hari ini. Ayah tidak dapat membayar kewajiban Ayah sebagai debitur pada bank. Maka rumah dan semua aset perusaahan akan disita bank," makin sedih terdengar pilu ungkapan kebenaran Roky.

"Ayah masih memikir'kan pegawai-pegawai yang mereka masih menggantung'kan harapannya pada Ayah, Bun. Gimana jika sampai perusahaan itu sampai diambil oleh bank, nasib keluarga mereka?" tatap mata berkaca-kaca memang ada benarnya juga apa yang di katakan Roky.

Tapi Saras, walau dirinya anak kandung Suwanti. Tetap dirinya tidak bisa mengoyak hati Ibunya yang kekeh tidak akan menjual perkebunan tebu, walau menantunya itu sedang dalam kesulitan.

Lihat selengkapnya