Sultan tidak lantas pulang, terasa masih membekas kenangan berapa hari ini dirinya mengenal dan bersama dengan Bulan. Terduduk saja ditepian pematang perkebunan tebu, jahil memang nakal sekali-kali colekan ujung daun tebu mencolek lengan kanannya masih berselimut seragam putih.
Awan dilangit makin terasa penuh keagungan Sang Pencipta, dia adalah yang sesungguh Maha Segalanya. Dia telah melukiskan langit serta isinya yang kita pijak ini, begitu indah sedap tanpa lekang termakan waktu walau semakin berlalu.
Serpihan awan putih dengan di intip colekan sinar matahari tidak terlalu terik di bawahnya hamparan luas terbentang hijau. Lirikan sendu menahan rindu di ajaknya tersenyum saat pekerja mulai beranjak pulang sempat lewat dibelakang Sultan hanya menoleh senyum saja.
Anggukan sopan terpapar dari setiap wajah pekerja, tahu siapa yang beranjak bangun membalas dengan senyuman juga.
"Sore, Dokter." sahut dari salah pekerja sambil anggukan kepalanya dibalas Sultan dengan penuh senyuman.
Barisan pekerja kini hanya kembali berjalan meninggalkan Sultan sendiri tapi masih berteman dengan sepedanya. Senyumannya kini makin terpanggil untuk mengulik kerinduannya dengan Bulan.
Dua bola matanya berpayung alis tebal, hanya diam tersenyum menatap langit memang mulai datang senja. Dari bawah hamparan perkebunan tebu, tiba muncul layangan terbang makin tinggi seraya benag kenurnya membiarkan layangan itu terbang tinggi.
Benang kenurnya seakan terus memanjakan terus mengulurnya layangan agar terbang semakin tinggi. Sumringah wajah Sultan tidak akan mengajak dua matanya sedikitpun berkedip.
Wajah Bulan tersenyum seolah memberikan isyarat kerinduan dalam layang-layang terbang makin tinggi. Makin tidak berpaling berkedip dua mata Sultan.
"Bulan ..." teriak Sultan makin tinggi layangan berbentuk wajah Bulan dalam penglihatan wajah Bulan.
Sontak terdiam Sultan, bila yang di lihatnya hanya semu bayangan yang mengular rindu dari hati terpapar sampai dua matanya. Nyata itu hanya layangan putih tanpa wajahnya Bulan.
"Apa aku jatuh cinta sama, Bulan?" guman tersenyum Sultan mungkin dirinya baru terjaga dalam kerinduan sesaatnya. Sampai layangan saja di lihatnya ada wajah Bulan.
Lalu kedua kakinya mulai mengayuh pedal sepeda mengajaknya pergi meninggalkan hamaparan perkebunan tebu. Makin jauh, makin tidak terlihat lagi Sultan dengan sepedanya.