Menunggu Bulan *Novel*

Herman Siem
Chapter #20

Prasangka Buruk

"Brak" pintu mobil bagian kanan depan ditutup.

Baru berapa hari saja Bulan meninggalkan rumah, terasa sangat rindu sekali dirinya dengan Brown yang biasanya menyambut dirinya. Mencium, manja mencakar kecil dua kakinya sontak terbalas juga cengkraman hangat dua tangan pemiliknya memeluk melepaskan rindu pada kucing berwarna coklat itu.

Hanya berdiri berhadapan papan ayunan hanya terdiam, menanti sangat rindu ingin di dudukinya papan ayunan.

"Ayah?" panggilan Bulan pada Roky hanya diam saja.

"Bulan, hayoo lekas tidur. Sudah malam," malahan disahtui Saras menyuruh tidur.

Dua langkah kaki Roky mengajak masuk kedalam, seperti merasa takut akan ditanya sesuatu oleh Bulan.

"Brown dimana, Bun?" dua tangannya mencengkram rantai kembar penahan papan ayunan.

Dua tiang besi mulai terselimuti embun, terdengar ringkih suara gerakan bulatan claher besi saat dua kaki Bulan sedikit menggerakan papan ayunan.

Terduduk nyaman, walau malam semakin memanggil gadis aneh masih terikat dua kepangan pada rambutnya. Saras masih berdiri disamping kanan papan ayunan, sejak dari tadi wajahnya menahan rasa kantuk. Tersenyum perhatikan wajah Bulan seakan begitu sumringah hati terpapar pada raut wajahnya memandang begitu sempurna bulan bulat sempurna.

"Saat kamu dirumah Nenek. Bunda selalu terduduk diayunan itu. Hati Bunda selalu tersenyum memandangi sinar cahaya rembulan itu. Tapi hati Bunda tidak bisa lekang dalam kesedihan seraya terus menanti dan terus menunggu kamu, Bulan." lirikan senyum bercampur haru dari dua mata Saras.

Hanya jawaban lirikan tersenyum wajah Bulan menatap wajah Bundanya terbayangi sinar cahaya rembulan malam.

"Jangan lama-lama kamu menemani ayunan itu. Makin malam, udara disini makin dingin, Bulan. Bunda masuk dulu ya," masih tersenyum Saras wajahnya menatap Bulan.

Saras beranjak masuk kedalam, mungkin kedua kakinya sejak dalam perjalanan merasa lelah karena setengah tertekuk duduk dalam kabin mobil. Bulan sekarang hanya terduduk sendiri diatas papan ayunan, dua kakinya kali ini hanya terdiam menyentuh rerumputan kecil tidak lantas mengajak bermain papan ayunan.

Wajahnya menoleh kesisi kanan, masih terdapat ruang kosong tidak terlalu lebar diatas ayunan. Biasanya Brown selalu duduk disamping kanannya, tapi sejak dari tadi tidak terlihat.

Lihat selengkapnya