Malam terasa masih panjang, rasa takut akan datangnya pagi tentu membuat Roky masih terjaga dari tidurnya. Hanya berdiri dibalik jendela kamar, terbuka lebar tirai warna biru tuanya dan hanya masih terduduk juga Saras diatas dipan terlihat masih tertata rapi sprei dan bantalnya.
"Bunda yakin, Yah. Pasti akan ada jalan buat esok. Karena setiap masalah yang kita jalani, pasti sudah di siap'kan solusi jalan keluarnya oleh Tuhan," makin terasa prihatinnya perasaan Saras beranjak bangun dari duduknya.
Bunda dan Ayah berdiri dibalik jendela, dua pasang wajah risau makin terasa menusuk sembilu sanubari mereka berdua makin menusuk dalam kecemasan. Sinar cahaya rembulan malam sempat mengulik perasaan Saras tersenyum melirik menatap wajah kegelisahan Roky.
Raut wajah Roky terpaksa membalas senyuman pada istrinya lalu terduduk lagi diatas dipan, wajahnya perhatikan kamar terasa sunyi hening tidak lagi terdengar suara keceriaan dan senyuman suaminya itu. Sejak perusahaan diambang kebangkrutan, hanya selalu terdengar suara kemarahan dan kemelut yang tidak lagi tersumbat dalam pikiran hatinya.
"Bunda tidak bisa berbuat banyak, Yah. Bunda sudah berusaha memohon bantuan pada Ibu. Tapi tetap saja Ibu dengan sikap kerasnya tidak mau menjual perkebunan tebu miliknya," sekali mulutnya menguap Saras siap-siap ingin berbaring tidur mungkin lelah.
Daster merah tua motif burung bangau terbang, seakan terasa nyaman mulai di ajaknya terbaring diatas praduan kasur yang nyaman.
"Tidak tahu lagi, Ayah harus bagaimana?" sambil tangan kirinya menarik tirai jendela.
Roky terduduk diatas dipan sambil dua matanya menoleh kekanan Saras kelihatan sekarang dua mtanya makin terjaga tidak mengantuk lagi. Bayangan sedih dua matanya makin berkaca-kaca, ada rasa bersalah dirinya pada suami yang selama ini menemani dirinya.
"Bunda, tidak mengapa Yah bila harus pergi dan tidak lagi tidur dalam pembaringan nyaman lagi kasur empuk ini. Bunda akan selalu ada dan selalu setia akan menemani Ayah walau tidak lagi mengecap kenyaman hidup yang sekarang di rasakan," tersenyum ada rasa haru dan sedikit keyakinan dari raut wajah Roky.
"Brown ..." sekali biasanya atau tidak dipanggil kucing warna coklat kesayangan Bulan pasti datang.
Tapi kali ini kenapa kucing itu tidak datang, dia biasanya memeluk mencakar manja dua kaki pemilik setianya.
"Dimana Brown? Tidak biasanya?" sontak dua lobang hidng mengendus bau tidak sedap, seperti bau bangkai.
Dua mata mencari kesekitar kamar, semakin tajam dan jelas bau tidak sedap makin terasa bikin mual wajah kepanikan Bulan.
"Brown ..." teriak kecil sambil menarik kursi barangkali saja ada di kolong meja belajar.
Tapi tidak ada, malahan bau tidak sedap makin tajam tercium dua lobang Bulan yang sejak dari kemarin siang dirinya belum mengganti bayu piyamanya.