Menunggu Bulan *Novel*

Herman Siem
Chapter #22

Kemarahan Berujung Tersingkir

Sinar cahaya matahari mulai datang, siulan merdu burung kecil terbang dan hinggap di ranting pohon makin mengajak riangnya menyambut pagi. Tetesan kristal embun pagi makin menyilaukan pada setiap ujung helai rerumputan hijau, terlebih helai jutaan daun terasa terlihat basah riang bahagia karena sudah tersirami air kesejukan surga.

Pagi-pagi sekali Saras sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya, tersenyum ceria raut wajahnya walau hatinya bersedih makin menusuk relung hatinya dengan permasalahan yang sedang dihadapi suaminya.

Meja makan sudah tersaji penuh aneka makanan sarapan pagi siap disantap dan tertata rapi dengan peralatan makannya siap di gunakan. Tapi dua pintu kamar masih tertutup, padahal waktu sudah menunjukan pukul 5.15 pagi dari jam dinding yang terpampang bulat pada dinding sebelah kanan samping meja makan

Langkah tersenyum mengajak dua kaki Saras langsung tangan kanannya mendorong handle pintu. Masih terduduk Roky, walau sejak dari tadi sudah terjaga dari tidurnya semalam.

"Ayah belum mandi?" sudah berdiri Saras depan suaminya itu, wajahnya terasa berat buat tersenyum apalagi menjawab.

"Ayah hari ini tidak ngantor dulu, Bun." beranjak bangun Roky wajahnya masih terasa berat buat tersenyum.

"Ya sudah, kalau Ayah tidak ngantor hari ini. Ayah mandi dulu, lalu sarapan pagi. Itu sudah Bunda siap'kan. Biar nanti saja, Bunda yang kekantor," makin tahu Saras apa yang sedang di pikirkan suaminya itu.

Roky berjalan keluar dari dalam kamar, lirikan dua mata terasa tidak bernafsu ingin sarapan pagi, padahal aneka makanan sarapan pagi mengundang rasa lapar perutnya. Mungkin yang ada dalam pikirannya, makin hanya ada rasa takut dan penat bila dirinya terus-terusan di kejar bank.

"Bulan. Bangun sudah ssiang," baru saja akan menyentuh handle pintu tangan kanan Saras tidak jadi karena sudah terbuka pintu.

"Bulan?" tersentak kaget dua matanya yang tadinya tersenyum melihat keadaan kamar berantakan.

"Bulan! Bulan bangun!" sudah tahu Saras kalau keadaan Bulan kembali depresi kumat lagi. Dan kembali hasrat perutnya kembali memakan, makanan yang aneh lagi.

"Bulan bangun!" berapa kali tangan kanan Saras mencolek punggung Bulan memeluk selimut putih.

Sontak aroma bau tidak sedap tercium dua lobang hidung Saras mundur menahan bau hampir muntah. "Bulan bangun!" dua lobang hidung Saras makin menahan bau ditekap tangan kanannya.

Tapi tidak lantas Bulan terjaga bangun, padahal bau tidak sedap makin tajam dan makin menngundang mualnya Saras. Penasaran walau menahan bau, langkah Saras mendekati lagi dan sudah berdiri persis depan dipan.

Lihat selengkapnya