Pelataran halaman Sekolah SMA Setia Kasih, silih berganti keluar masuk kendaraan motor dan mobil telah mengantarkan dan menurunkan setiap murid yang siap-siap menerima sarapan ilmu dari sang pendidik.
Bendera Merah Putih, Bendera Kebanggan setiap insan yang terlahir di bumi tanah air tercinta ini. Begitu gagah berkibar menjulang tinggi mengangkasa berkibar bebas bertiang besi kuat dan kokoh sebagai peyanggahnya.
Langit cerah walau masih terlihat serpihan awan kelabu tertinggal sehabat malamnya, tapi tidak menyurutkan setiap insan nurani murid yang terlahir di bumi tercinta ini, untuk mengecap ilmu pendidikan sebagai jalan pembuka masa depan.
Mobil minibus putih terhenti dipelataran halaman sekolah, tersenyum seraya memberi pesan bermakna tersirat dari raut wajah Ibu yang ingin anaknya bersekolah pintar.
"Bulan, nanti kamu langsung saja kekantor setelah pulang dari sekolah. Nanti kita pulang sama-sama lagi ya," tersenyum Saras masih duduk dibelakang kemudi setir mobil saat anaknya sudah turun dari mobil.
Sedikit tersenyum Bulan menatap wajah senyuman Ibunya, tapi hanya anggukan saja tidak menjawab. Mobil mundur dibarengi kaca sisi kiri turun tertutup otomatis, sesaat wajah tersenyum Bulan perhatikan mobil milik Ibunya sudah keluar meninggalkan pelataran halaman sekolah.
"Gua senang bangat udah di jemput sama loe, Del." kayak sengaja bangat pelukan dan ucapan manja Lusy pada Delon.
Tidak jadi langkah jalan Bulan berdiri persis didepan motor vespanya Delon masih memakai helm hitam berjaket biru tua dan celana panjang abu-abunya terlihat. Makin kesal menahan rasa cemburu dua mata tajam sinis cewek, yang cowoknya membocengi cewek lain. Bulan menatap kesal pada Lusy yang tidak lantas turun dari boncengan motor vespa.
"Loe, nanti juga pulangnya bareng gua lagi ya, Del." makin panas hati terbakar api cemburu yang tidak karuan sindiran Lusy.
"Del?" sapaan halus terlontar mengetuk hatinya Delon saat turun dari motor vespa.
Tapi tidak ada jawaban, mungkin hati dan bibirnya kecilnya Delon sudah tertutup dengan kelicikan hati Lusy, sampai membiarkan Bulan berdiri di sampingnya saja.
Motor vespa sudah tersandar dengan dua besi peyanggah bawahnya, tapi manja tidak mau turun Lusy masih duduk dibelakang boncengan.
"Delon bantuin turun dong. Gua takut jatuh," sindir manjanya Lusy bikin sedih Bulan terbakar cemburu.
Dua tangan sengaja Lusy merangkul bahu Delon sempat melirik Bulan makin hancur remuk redam cintanya pada Delon, sudah tergadai dusta cinta dengan Lusy sudah turun tapi sengaja lagi kedua kakinya pura-pura sakit.
"Aduh! Aduh sakit kaki gua, Del. Mungkin karena ngak biasa di boncengin motor," lirikan sinis dua mata Lusy menatap tersenyum Bulan.