Terasa sedih, hanya deraian air mata makin sembai wajah, gerakan lucu dua ikatan kepangan rambut terikat pita merah terlihat dari belakang. Mungkin rasa marah dan cemburu terasa makin menusuk hatinya, padahal selama dirinya berada dirumah Suwanti, Neneknya. Bulan selalu setia, tapi kali ini mungkin dirinya baru sadar apa yang di katakan Susi dan Anjas.
"Apa karena gua dekat dengan Sultan, selama gua dirumah Nenek?" baru terbangun hati kesedihannya Bulan berjalan pelan.
Langkah dua kakinya serasa membisikan, bila kenapa Delon berpaling hati sampai mengadaikan kesetiaannya menjadi dusta dengan dirinya. Berjalan makin pelan, makin teringat otak dan pikirannya juga merasa andil bersalah.
"Tapi gua'kan dengan Sultan?" makin tidak bisa menjawab guman sendiri Bulan.
Terduduk dirinya ditepian Jalan Sudirman, wajahnya hanya tegap berdiri memandangi gedung bertingkat tinggi seraya benaran akan mencakar langit beratap cerah siang itu. Kilauan sinar terik matahari makin memantul silaukan mata yang melihat, tapi tidak mengurangi kekokohan gedung-gedung bertingkat pusat perkantoran sepanjang Jalan Sudirman. Aneka bentuk macam gaya model gedung berpadu makin menjadikan semarak lalu-lalang kendaraan tidak pernah lelap walau sekejap saja, terkecuali malam hari.
"Tapi apa karena gua juga diam-diam menyukai Sultan? Jadi ini balasan Delon sama gua?" benar nyatanya bila bulan menyukai Sultan, tapi mungkin dirinya hanya sebatas suka saja dengan Sultan.
"Tapi gua sudah melukai hatinya, Delon. Sekarang terbayar sudah gua juga sudah mendustai dan menggadaikan kesetiaan Delon tidak lagi menunggu gua," sedih makin terasa bersalahnya walau hanya diam-diam menyukai Sultan dan kini terbayar sudah cintanya juga didustai Delon.
"Padahal selama gua dirumah Nenek. Gua rindu pelukan, Delon?" guman pupus hilang harapan Bulan.
Kembali berjalan lagi, langkahnya terhenti pada dederatan gedung perkantoran cukup lumayan besar dan bila dua mata mendongkak keatas, ujung gedung itu benar-benar bila terlihat ada sepasang tangannya akan mencakar langit.
"Pagi," sapaan halus terumbar senyum dari wajah tegap penuh disiplin satpam berseragam coklat.
Hanya tatapan senyum masih bercampur sedih berjalan mengajak dua langkah kakinya kearah pintu lift sebentar terbuka dan tertutup menurunkan dan menaikkan orang.
Berdiri Bulan, wajahnya melirik list daftar perusahaan yang berkantor di gedung itu. PT. Abadi Pandai, ada dilantai tujuh. Tersenyum anggukan wajahnya satpam wanita berambut pendek menekan tombol saat dua kaki Bulan mulai masuk kedalam lift, pintu tertutup ketika telunjuk jarinya menekan tombol angka tujuh.
Hanya sendiri dalam lift yang naik mengajaknya kelantai tujuh, dimana PT. Abadi Pandai miliknya Ayah ada dilantai tujuh. Lantai demi lantai terlihat dari setiap tombol angka berjalan berganti nomor. Pintu lift terbuka, tapi kenapa langkah kakinya tidak lanats keluar dari dalam lift.
"Pasti Bunda marah sama gua?" guman Bulan ada rasa takut juga kenapa jam segini dirinya sudah pulang sekolah. Padahal tadi pesan Ibunya, setelah pulang sekolah Bulan boleh menemuinya.